Makan Es Tanpa Gigi Berlubang
SIAPA orangnya yang tidak suka es krim? Cemilan sedap favorit anak-anak ini kerapkali menjadi momok para orangtua yang tidak ingin anak-anaknya pilek, gigi berlubang atau sakit tenggorokan gara-gara terlalu dingin. Padahal es krim yang berkualitas tinggi sebenarnya tidak menyebabkan pilek, kegemukan apalagi gigi berlubang selama dikonsumsi dengan tepat. Demikian diungkapkan Dr. Nani D, SpA, dalam seminar bertajuk Pentingnya Asupan Kalsium dan Mengasah Kemampuan Motorik Anak Sejak Dini di Jakarta, Sabtu (1/3).
Menurut Nani, pilek yang dialami anak-anak ketika makan es tidak ada hubungannya dengan es yang dimakannya. Pilek terjadi karena adanya virus yang menempel dan terbawa masuk ke saluran pernapasan atas. Sementara gigi berlubang bisa dihindari bila setiap kali usai makan es si anak berkumur atau menyikat giginya, sehingga sisa-sisa makan atau gula yang ada di dalam es akan berkurang atau hilang.
Dan kegemukan, tidak bakal terjadi bila kebutuhan menu gizi seimbang terpenuhi sebelum mengonsumsi es krim. Jangan sampai belum makan, anak sudah disodori es krim, katanya. Susu, meskipun baik tidak dianjurkan sebagai makanan utama anak. Susu, hanyalah makanan pelengkap.
Karena itu, Dr. Nani menyarankan agar orangtua tidak khawatir apabila anak-anaknya begitu gemar bahkan menggilai es krim. Apalagi sekarang ini ada es krim yang disajikan mengandung kalsium. Bahan ini menurut Nani sangat penting dalam pembentukan gigi dan tulang anak. Bertumbuhnya gigi dan tulang akan mendukung kemampuan motorik anak. Tentu saja, karena anak yang keropos tulangnya tidak bakal mampu melakukan banyak aktivitas. Padahal aktivitas yang banyak juga diperlukan anak bagi berkembangnya otak mereka. Makin banyak aktivitas, jaringan otak akan semakin berkembang dan tumbuh, jelas Nani.
Selain mengadakan seminar edukasi, Wall's Moo juga menggelar Dunia Anak Moonderland. Di wahana ini anak-anak dapat bermain sekaligus mengasah kemampuan motorik kasar dan kekuatan tulang mereka lewat kegiatan melompat di atas trampolin dan Su-Moo, permainan mirip gulat sumo. Tak ketinggalan pemainan Tra-Moo-Lin juga Moo Milk Man mejadi ajang yang menarik bagi anak-anak. Dalam permainan ini anak-anak dapat melatih kemampuan motorik halusnya lewat memerah susu.
Kamis, 19 Februari 2009
Ngorok Indikasikan Stroke dan Jantung
Ngorok Indikasikan Stroke dan Jantung
Bila Anda termasuk orang yang sering tidur dengan suara dengkuran atau ngorok sebaiknya waspada. Bukan tidak mungkin, kebiasaan itu menjadi pertanda bahwa Anda berisiko tinggi mengidap jantung dan stroke.
Mendengkur atau mengeluarkan suara getar saat tidur lelap memang sejak lama dicurigai para ahli berkaitan dengan gangguan kesehatan. Kini, indikasi tersebut diperkuat oleh hasil sebuah riset di Hongaria yang mengaitkan kebiasaan mendengkur dengan penyakit jantung dan stroke
Riet yang melibatkan lebih dari 12 ribu pasien dan dipublikasikan dalam Journal Sleep itu menyimpulkan bahwa pendengkur berat memiliki kecenderungan yang signifikan mengalami serangan jantung atau stroke dibanding mereka yang tak mendengkur.
Temuan ini menurut peneliti semakin memperkuat teori sebelumnya tentang hubungaan antara mendengkur dengan penyakit kardiovaskuler. Mendengkur sebenarnya gejala yang dapat dialami siapa saja pada berbagai tahap usia. Namun kebiasaan ini tercatat lebih banyak ditemukan pada sekitar 40 persen pria dewas adan 24 persen wanita dewasa.
Suara mendengkur adalah akibat terhalangnya aliran udara yang melalui saluran yang terletak di bagian belakang rongga mulut dan hidung. Pada saat otot di langit-langit dan uvula (bagian dari langit-langit yang membentang dari bagian atas hingga pangkal lidah) dalam keadaan rileks , mereka dapat bergetar yang menghasilkan suara yang saat pendengkur bernafas.
Selama bertahun-tahun , para ahli selalu mewaspadai akan adanya korelasi kuat antara mendengkur dengan berbagai jenis penyakit pembuluh darah (kardiovaskuler) seperti jantung atau stroke.
Riset yang dilakukan para ahli Hongaria ini memberi bukti yang memperkuat dugaan ini. Dalam risetnya, para ahli mewawancarai sekitar 12 ribu orang pasien untuk mengumpulkan data seputar kebiasaan mendengkur. Setelah dianalisa, terungkap bahwa ´pendengkur berat´ memiliki kecenderungan 34 persen lebih besar mengalami serangan jantung dan 67 persen risiko lebih besar mengalami stroke.
Peneliti mengatakan, kasus mendengkur dengan suara keras disertai nafas yang terhenti dapat digunakan untuk mengidentikasi risiko seseorang akan penyakit jantung dan stroke. Data menunjukkan bahwa pasien yang dengkurannya tidak nyaring justru tidak mengalami peningkatan risiko. Kabar baiknya lagi, khususnya bagi pria, kecenderungan untuk mendengkur juga menurun setelah mereka melewati usia 70 tahun.
Bila Anda termasuk orang yang sering tidur dengan suara dengkuran atau ngorok sebaiknya waspada. Bukan tidak mungkin, kebiasaan itu menjadi pertanda bahwa Anda berisiko tinggi mengidap jantung dan stroke.
Mendengkur atau mengeluarkan suara getar saat tidur lelap memang sejak lama dicurigai para ahli berkaitan dengan gangguan kesehatan. Kini, indikasi tersebut diperkuat oleh hasil sebuah riset di Hongaria yang mengaitkan kebiasaan mendengkur dengan penyakit jantung dan stroke
Riet yang melibatkan lebih dari 12 ribu pasien dan dipublikasikan dalam Journal Sleep itu menyimpulkan bahwa pendengkur berat memiliki kecenderungan yang signifikan mengalami serangan jantung atau stroke dibanding mereka yang tak mendengkur.
Temuan ini menurut peneliti semakin memperkuat teori sebelumnya tentang hubungaan antara mendengkur dengan penyakit kardiovaskuler. Mendengkur sebenarnya gejala yang dapat dialami siapa saja pada berbagai tahap usia. Namun kebiasaan ini tercatat lebih banyak ditemukan pada sekitar 40 persen pria dewas adan 24 persen wanita dewasa.
Suara mendengkur adalah akibat terhalangnya aliran udara yang melalui saluran yang terletak di bagian belakang rongga mulut dan hidung. Pada saat otot di langit-langit dan uvula (bagian dari langit-langit yang membentang dari bagian atas hingga pangkal lidah) dalam keadaan rileks , mereka dapat bergetar yang menghasilkan suara yang saat pendengkur bernafas.
Selama bertahun-tahun , para ahli selalu mewaspadai akan adanya korelasi kuat antara mendengkur dengan berbagai jenis penyakit pembuluh darah (kardiovaskuler) seperti jantung atau stroke.
Riset yang dilakukan para ahli Hongaria ini memberi bukti yang memperkuat dugaan ini. Dalam risetnya, para ahli mewawancarai sekitar 12 ribu orang pasien untuk mengumpulkan data seputar kebiasaan mendengkur. Setelah dianalisa, terungkap bahwa ´pendengkur berat´ memiliki kecenderungan 34 persen lebih besar mengalami serangan jantung dan 67 persen risiko lebih besar mengalami stroke.
Peneliti mengatakan, kasus mendengkur dengan suara keras disertai nafas yang terhenti dapat digunakan untuk mengidentikasi risiko seseorang akan penyakit jantung dan stroke. Data menunjukkan bahwa pasien yang dengkurannya tidak nyaring justru tidak mengalami peningkatan risiko. Kabar baiknya lagi, khususnya bagi pria, kecenderungan untuk mendengkur juga menurun setelah mereka melewati usia 70 tahun.
Sakit Gigi Bisa Picu Penyakit Kronis
Sakit Gigi Bisa Picu Penyakit Kronis
Jangan pernah meremehkan sakit gigi. Bahkan seorang Jusuf Kalla mengaku sangat peduli terhadap kesehatan gigi dan mulut. Katanya, sakit gigi itu termasuk penyakit yang sulit ditunda dan bikin pusing kepala.
"Penyakit gigi itu susah ditunda. Sebagai wapres, biasanya dokter menghadap ke saya, cuma dokter gigi yang saya mesti datangi," kata Jusuf Kalla setengah berkelakar saat membuka Kongres Perhimpunan Dokter Gigi (PDGI) ke-23 di Istana Wapres, Jakarta, belum lama ini.
Ah, bila demikian adanya, penyanyi dangdut Meggi Z tampaknya belum pernah terkena sakit gigi. Jika pernah, ia tidak akan pernah berujar dalam lagunya yang hits itu, bahwa lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Karena faktanya, sakit gigi itu lebih memilukan ketimbang sakit hati.
Yang lebih parah, sakit gigi juga memicu penyakit lain seperti sakit kepala, nyeri mata, jantung, stroke, diabetes dan kelahiran prematur. Jadi, jangan anggap sepele lagi gigi berlubang!
Seperti dikemukakan Ketua Umum PDGI, drg Emir M Muis, ada banyak penyakit yang berawal dari mulut dan gigi. "Menjaga kesehatan mulut berarti juga menjaga kesehatan seluruh badan, karena mulut adalah pintu masuk segala macam benda asing ke dalam tubuh," kata Emir menegaskan. Ia menjelaskan, masalah utama yang menyebabkan sakit gigi umumnya adalah lubang pada gigi. Bila tidak sering dibersihkan, gigi yang berlubang itu sangat mudah dimasuki kuman dan bakteri. Yang menakutkan, kuman yang bersarang pada gigi berlubang itu bisa menembus ke pembuluh darah, dan akhirnya mengumpul di jantung.
Selain itu, sejumlah penelitian menunjukkan, bakteri yang terikut aliran darah bisa memproduksi sejenis enzim yang mempercepat proses pengerasan dinding pembuluh darah, sehingga pembuluh darah menjadi tidak elastis (aterosklerosis).
"Bakteri juga bisa menempel pada lapisan lemak di pembuluh darah. Akibatnya, plak yang terbentuk menjadi makin tebal. Semua kondisi ini menghambat aliran darah ke jantung. Hal ini berarti penyaluran sumber makanan dan oksigen ke jantung juga tersendat. Jika berlangsung terus, jantung tak akan mampu berfungsi secara baik. Maka terjadilah penyakit jantung yang ditakutkan banyak orang," ujarnya.
Hubungan bakteri dalam mulut dengan penyakit kardiovaskular akhir-akhir ini banyak diteliti, terutama berkaitan dengan bakteri endokarditis dan penyakit jantung koroner. Berdasarkan sebuah penelitian, ternyata dari sejumlah kasus penyakit jantung, sebanyak 54 persen pasien memiliki riwayat penyakit periodontal.
"Penemuan ini sangat mencengangkan karena jarang sekali penyakit gigi diperkirakan sebagai penyebab penyakit jantung. Namun, hasil dari berbagai penelitian masih dianggap belum memuaskan karena belum bisa menjelaskan secara jelas bagaimana ini bisa terjadi," tuturnya.
Ditambahkan, komplikasi yang relatif banyak terjadi akibat infeksi gigi adalah gangguan mata. Mata jadi cepat lelah dan terasa nyeri, khususnya pada bagian atas kelopak mata. Hal itu terjadi karena gigi dan mata memiliki induk syaraf yang sama.
Dalam kasus tertentu, seseorang juga bisa mengalami sakit kepala. Hal itu terjadi bila ada kelainan pada struktur rongga gigi. Kondisi ini sangat mungkin terjadi karena sistem pengunyahan terdiri atas empat komponen, yaitu gigi dan jaringan penyangga, tulang rahang, otot-otot dan sendi rahang.
"Semua komponen tersebut saling berkaitan dan saling mempengaruhi. Jika salah satu gigi dicabut dan tidak segera diganti, maka gigi lawannya tidak berpasangan. Kondisi seperti ini mengganggu proses pengunyahan. Makan jadi tidak enak, dan pengunyahan menjadi tidak sempurna. Akibatnya orang yang sudah lama hanya mengunyah dengan satu sisi rahang saja akan mengalami keluhan sakit di bagian belakang kepala," ujarnya.
Tentang penyakit diabetes, Emir menjelaskan, pada kerusakan gigi yang parah, bakteri dapat masuk ke aliran darah dan mengganggu sistem kekebalan tubuh. Sel sistem kekebalan tubuh yang rusak melepaskan sejenis protein yang disebut cytokines. Unsur itu menyebabkan kerusakan sel pankreas penghasil insulin, hormon yang memicu diabetes. "Mungkin di masa depan, faktor penyebab semacam ini harus mendapat perhatian lebih dari dokter jantung. Di kartu status pasien perlu ditambahkan riwayat keadaan gigi dan mulut pasien, untuk memudahkan pengobatan," katanya.
Gigi Berlubang
Emir menjelaskan, semua permasalahan yang terjadi saat terkena sakit gigi dan dampak lanjutannya, bersumber pada gigi berlubang. Padahal, bagi masyarakat Indonesia yang terkenal malas menggosok gigi minimal dua kali sehari, masalah gigi berlubang dianggap biasa. Sebagaimana hasil penelitian Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia yang menyebutkan 80 persen orang Indonesia mengidap penyakit gigi berlubang.
Data itu pun sesuai dengan hasil survei kesehatan rumah tangga (SKRT) 2004 yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan. Survei itu menyebut prevalensi karies (berlubang) gigi di Indonesia adalah 90,05 persen. Fakta yang lainnya adalah orang Indonesia yang menderita penyakit gigi dan mulut tersebut bersifat agresif kumulatif. Artinya daerah yang rusak tersebut menjadi tidak dapat disembuhkan.
Itu sebabnya masyarakat pada awal-awal sebelum terkena penyakit gigi dan mulut mengabaikan sakit yang ditimbulkannya. Padahal ketika sudah menjadi sakit, penyakit gigi merupakan jenis penyakit di urutan pertama yang dikeluhkan masyarakat. Data itu berdasarkan hasil survei kesehatan rumah tangga servei kesehatan nasional (SKRT-Surkesnas) tahun 2001 yang menyebut penyakit gigi dikeluhkan 60 persen penduduk Indonesia.
Tanpa disadari keluhan penyakit gigi juga berdampak terhadap produktivitas si penderita. Keluhan sakit gigi berakibat seseorang tidak masuk kerja atau pergi ke sekolah. Gangguan tersebut rata-rata 3,86 hari dengan kisaran berhenti berakitivitas antara 2,5 hari hingga 5,28 hari.
"Masyarakat yang menderita sakit gigi 87 persen di antaranya tidak berobat ke dokter gigi. Sementara 69,3 persen berupaya mengobati sendiri sakit giginya tersebut," ujarnya.
Produktivitas terganggu akibat penyakit gigi memang sudah menjadi fakta yang jelas. Tidak hanya dari sisi medis, ketidakpedulian masyarakat pada penyakit gigi dan mulut secara ekonomis juga merugikan. Tahun 2002 International Dental Journal melansir data bahwa di banyak negara penyakit gigi dan mulut merupakan penyakit keempat yang paling mahal biaya penyembuhannya.
Pengobatan penyakit gigi berlubang berdasarkan data tersebut membutuhkan biaya hingga 3.513 dolar AS per 1.000 orang anak. Anggaran tersebut melebihi anggaran kesehatan yang diperuntukan bagi anak-anak di negara-negara yang paling rendah pendapatan per kapitanya.
"Jika 80 persen orang Indonesia mengidap penyakit karies, dimana rata-rata setiap orang mempunyai dua gigi berlubang, berarti terdapat 350 juta gigi berlubang di Indonesia yang harus ditambal oleh dokter gigi. Biaya menambal gigi berlubang berkisar Rp 20 -100 ribu. Maka dana yang dikeluarkan untuk mengurusi gigi berlubang sebesar Rp 8,75 triliun," katanya.
Kunci dari perbaikan kesehatan gigi dan mulut pada masyarakat sangat mungkin tergantung pula dari partisipasi banyak pihak. Edukasi menjadi penting, karena hanya 10 persen orang Indonesia menggosok gigik dengan cara yang benar. Bahkan sebanyak 22 persen di antaranya menggosok gigi hanya kadang-kadang saja.
Tingkat pendidikan tampaknya memiliki hubungan dengan penyakit gigi. Sebanyak 63 persen penduduk Indonesia menderita karies yang tidak diobati dengan tingkat rata-rata 1,89 penyakit karies per orang. Persentase tersebut semakin turun pada kelompok masyarakat yang pendidikannnya kian tinggi.
Orang Indonesia yang terkena karies menjadi 50 persen pada masyarakat berpendidikan SLTA dan pada jenjang perguruan tinggi. Semakin tinggi pendidikan seseorang, kian tinggi pula tingkat kesehatan gigi dan mulutnya.
Bila proses edukasi sudah terlaksana, mestinya dukungan pelayanan kesehatan gigi pun menjadi perhatian pula. Seperti diketahui keterjangkauan dukungan tenaga medis untuk mengatasi penyakit gigi saat ini masih terjadi. Hal ini disebabkan tingginya angka penderita penyakit gigi di Indonesia.
Data yang dilansir PDGI menyatakan rasio tenaga dokter gigi terhadap jumlah penduduk masih rendah yaitu 1 berbanding 21.500 penduduk. Sedangkan tenaga perawat gigi 1 berbanding 23.000 penduduk. Sementara menurut ketentuan WHO, idealnya rasio tersebut adalah 1 berbanding 2.000 penduduk. Jumlah penduduk Indonesia adalah 224 juta orang, maka rasio di Indonesia masih jauh dari ideal.
Jangan pernah meremehkan sakit gigi. Bahkan seorang Jusuf Kalla mengaku sangat peduli terhadap kesehatan gigi dan mulut. Katanya, sakit gigi itu termasuk penyakit yang sulit ditunda dan bikin pusing kepala.
"Penyakit gigi itu susah ditunda. Sebagai wapres, biasanya dokter menghadap ke saya, cuma dokter gigi yang saya mesti datangi," kata Jusuf Kalla setengah berkelakar saat membuka Kongres Perhimpunan Dokter Gigi (PDGI) ke-23 di Istana Wapres, Jakarta, belum lama ini.
Ah, bila demikian adanya, penyanyi dangdut Meggi Z tampaknya belum pernah terkena sakit gigi. Jika pernah, ia tidak akan pernah berujar dalam lagunya yang hits itu, bahwa lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Karena faktanya, sakit gigi itu lebih memilukan ketimbang sakit hati.
Yang lebih parah, sakit gigi juga memicu penyakit lain seperti sakit kepala, nyeri mata, jantung, stroke, diabetes dan kelahiran prematur. Jadi, jangan anggap sepele lagi gigi berlubang!
Seperti dikemukakan Ketua Umum PDGI, drg Emir M Muis, ada banyak penyakit yang berawal dari mulut dan gigi. "Menjaga kesehatan mulut berarti juga menjaga kesehatan seluruh badan, karena mulut adalah pintu masuk segala macam benda asing ke dalam tubuh," kata Emir menegaskan. Ia menjelaskan, masalah utama yang menyebabkan sakit gigi umumnya adalah lubang pada gigi. Bila tidak sering dibersihkan, gigi yang berlubang itu sangat mudah dimasuki kuman dan bakteri. Yang menakutkan, kuman yang bersarang pada gigi berlubang itu bisa menembus ke pembuluh darah, dan akhirnya mengumpul di jantung.
Selain itu, sejumlah penelitian menunjukkan, bakteri yang terikut aliran darah bisa memproduksi sejenis enzim yang mempercepat proses pengerasan dinding pembuluh darah, sehingga pembuluh darah menjadi tidak elastis (aterosklerosis).
"Bakteri juga bisa menempel pada lapisan lemak di pembuluh darah. Akibatnya, plak yang terbentuk menjadi makin tebal. Semua kondisi ini menghambat aliran darah ke jantung. Hal ini berarti penyaluran sumber makanan dan oksigen ke jantung juga tersendat. Jika berlangsung terus, jantung tak akan mampu berfungsi secara baik. Maka terjadilah penyakit jantung yang ditakutkan banyak orang," ujarnya.
Hubungan bakteri dalam mulut dengan penyakit kardiovaskular akhir-akhir ini banyak diteliti, terutama berkaitan dengan bakteri endokarditis dan penyakit jantung koroner. Berdasarkan sebuah penelitian, ternyata dari sejumlah kasus penyakit jantung, sebanyak 54 persen pasien memiliki riwayat penyakit periodontal.
"Penemuan ini sangat mencengangkan karena jarang sekali penyakit gigi diperkirakan sebagai penyebab penyakit jantung. Namun, hasil dari berbagai penelitian masih dianggap belum memuaskan karena belum bisa menjelaskan secara jelas bagaimana ini bisa terjadi," tuturnya.
Ditambahkan, komplikasi yang relatif banyak terjadi akibat infeksi gigi adalah gangguan mata. Mata jadi cepat lelah dan terasa nyeri, khususnya pada bagian atas kelopak mata. Hal itu terjadi karena gigi dan mata memiliki induk syaraf yang sama.
Dalam kasus tertentu, seseorang juga bisa mengalami sakit kepala. Hal itu terjadi bila ada kelainan pada struktur rongga gigi. Kondisi ini sangat mungkin terjadi karena sistem pengunyahan terdiri atas empat komponen, yaitu gigi dan jaringan penyangga, tulang rahang, otot-otot dan sendi rahang.
"Semua komponen tersebut saling berkaitan dan saling mempengaruhi. Jika salah satu gigi dicabut dan tidak segera diganti, maka gigi lawannya tidak berpasangan. Kondisi seperti ini mengganggu proses pengunyahan. Makan jadi tidak enak, dan pengunyahan menjadi tidak sempurna. Akibatnya orang yang sudah lama hanya mengunyah dengan satu sisi rahang saja akan mengalami keluhan sakit di bagian belakang kepala," ujarnya.
Tentang penyakit diabetes, Emir menjelaskan, pada kerusakan gigi yang parah, bakteri dapat masuk ke aliran darah dan mengganggu sistem kekebalan tubuh. Sel sistem kekebalan tubuh yang rusak melepaskan sejenis protein yang disebut cytokines. Unsur itu menyebabkan kerusakan sel pankreas penghasil insulin, hormon yang memicu diabetes. "Mungkin di masa depan, faktor penyebab semacam ini harus mendapat perhatian lebih dari dokter jantung. Di kartu status pasien perlu ditambahkan riwayat keadaan gigi dan mulut pasien, untuk memudahkan pengobatan," katanya.
Gigi Berlubang
Emir menjelaskan, semua permasalahan yang terjadi saat terkena sakit gigi dan dampak lanjutannya, bersumber pada gigi berlubang. Padahal, bagi masyarakat Indonesia yang terkenal malas menggosok gigi minimal dua kali sehari, masalah gigi berlubang dianggap biasa. Sebagaimana hasil penelitian Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia yang menyebutkan 80 persen orang Indonesia mengidap penyakit gigi berlubang.
Data itu pun sesuai dengan hasil survei kesehatan rumah tangga (SKRT) 2004 yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan. Survei itu menyebut prevalensi karies (berlubang) gigi di Indonesia adalah 90,05 persen. Fakta yang lainnya adalah orang Indonesia yang menderita penyakit gigi dan mulut tersebut bersifat agresif kumulatif. Artinya daerah yang rusak tersebut menjadi tidak dapat disembuhkan.
Itu sebabnya masyarakat pada awal-awal sebelum terkena penyakit gigi dan mulut mengabaikan sakit yang ditimbulkannya. Padahal ketika sudah menjadi sakit, penyakit gigi merupakan jenis penyakit di urutan pertama yang dikeluhkan masyarakat. Data itu berdasarkan hasil survei kesehatan rumah tangga servei kesehatan nasional (SKRT-Surkesnas) tahun 2001 yang menyebut penyakit gigi dikeluhkan 60 persen penduduk Indonesia.
Tanpa disadari keluhan penyakit gigi juga berdampak terhadap produktivitas si penderita. Keluhan sakit gigi berakibat seseorang tidak masuk kerja atau pergi ke sekolah. Gangguan tersebut rata-rata 3,86 hari dengan kisaran berhenti berakitivitas antara 2,5 hari hingga 5,28 hari.
"Masyarakat yang menderita sakit gigi 87 persen di antaranya tidak berobat ke dokter gigi. Sementara 69,3 persen berupaya mengobati sendiri sakit giginya tersebut," ujarnya.
Produktivitas terganggu akibat penyakit gigi memang sudah menjadi fakta yang jelas. Tidak hanya dari sisi medis, ketidakpedulian masyarakat pada penyakit gigi dan mulut secara ekonomis juga merugikan. Tahun 2002 International Dental Journal melansir data bahwa di banyak negara penyakit gigi dan mulut merupakan penyakit keempat yang paling mahal biaya penyembuhannya.
Pengobatan penyakit gigi berlubang berdasarkan data tersebut membutuhkan biaya hingga 3.513 dolar AS per 1.000 orang anak. Anggaran tersebut melebihi anggaran kesehatan yang diperuntukan bagi anak-anak di negara-negara yang paling rendah pendapatan per kapitanya.
"Jika 80 persen orang Indonesia mengidap penyakit karies, dimana rata-rata setiap orang mempunyai dua gigi berlubang, berarti terdapat 350 juta gigi berlubang di Indonesia yang harus ditambal oleh dokter gigi. Biaya menambal gigi berlubang berkisar Rp 20 -100 ribu. Maka dana yang dikeluarkan untuk mengurusi gigi berlubang sebesar Rp 8,75 triliun," katanya.
Kunci dari perbaikan kesehatan gigi dan mulut pada masyarakat sangat mungkin tergantung pula dari partisipasi banyak pihak. Edukasi menjadi penting, karena hanya 10 persen orang Indonesia menggosok gigik dengan cara yang benar. Bahkan sebanyak 22 persen di antaranya menggosok gigi hanya kadang-kadang saja.
Tingkat pendidikan tampaknya memiliki hubungan dengan penyakit gigi. Sebanyak 63 persen penduduk Indonesia menderita karies yang tidak diobati dengan tingkat rata-rata 1,89 penyakit karies per orang. Persentase tersebut semakin turun pada kelompok masyarakat yang pendidikannnya kian tinggi.
Orang Indonesia yang terkena karies menjadi 50 persen pada masyarakat berpendidikan SLTA dan pada jenjang perguruan tinggi. Semakin tinggi pendidikan seseorang, kian tinggi pula tingkat kesehatan gigi dan mulutnya.
Bila proses edukasi sudah terlaksana, mestinya dukungan pelayanan kesehatan gigi pun menjadi perhatian pula. Seperti diketahui keterjangkauan dukungan tenaga medis untuk mengatasi penyakit gigi saat ini masih terjadi. Hal ini disebabkan tingginya angka penderita penyakit gigi di Indonesia.
Data yang dilansir PDGI menyatakan rasio tenaga dokter gigi terhadap jumlah penduduk masih rendah yaitu 1 berbanding 21.500 penduduk. Sedangkan tenaga perawat gigi 1 berbanding 23.000 penduduk. Sementara menurut ketentuan WHO, idealnya rasio tersebut adalah 1 berbanding 2.000 penduduk. Jumlah penduduk Indonesia adalah 224 juta orang, maka rasio di Indonesia masih jauh dari ideal.
Khasiat Teh Hitam Setara Teh Hijau
Khasiat Teh Hitam Setara Teh Hijau
Selama ini teh hijau dipercaya mampu mengurangi serangan koroner, stroke, diabetes, darah tinggi, dan kanker hati menjadi penyakit yang menakutkan bagi setiap orang. Sehingga banyak produsen teh berlomba-lomba mengeluarkan produk minuman teh hijau kemasan yang lebih praktis. Tetapi benarkan hanya teh hijau yang berkhasiat seperti itu?
Guru Besar Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Ali Khomsan MS dan ahli kesehatan jantung Dr Mohammad Taufik Spj dalam sebuah diskusi tentang teh, di Bogor, belum lama ini mengemukakan, teh hitam (black tea) juga berkhasiat sama seperti teh hijau karena kandungan radikal bebas yang terkandung di dalamnya.
"Memang benar teh hitam mempunyai manfaat seperti menurunkan risiko kanker, mencegah jantung koroner, mencegah penuaan, dan juga bisa menurunkan kadar kolesterol dalam darah," kata Prof Dr Ali Khomsan.
Prof Ali menjelaskan, dari berbagai referensi, diketahui bahwa teh hitam yang selama ini dikonsumsi masyarakat kita cukup banyak mengandung komponen senyawa yang baik bagi tubuh. Utamanya adalah antioksidan serta Theaflavin cukup tinggi. Senyawa itulah yang mempunyai efek dapat mengurangi risiko-risiko penyakit seperti kanker dan mencegah jantung koroner. "Teh hitam atau black tea itu dibuat dari pucuk daun teh segar yang dibiarkan menjadi layu sebelum digulung, kemudian dipanaskan dan dikeringkan. Teh hitam disebut juga teh fermentasi" tutur Ali Khomsan.
Salah seorang pakar kesehatan jantung dari Kota Hujan Bogor, Dr H Mohammad Taufik SpJ mendukung pendapat Prof Dr Ali Khomsan yang menyebutkan teh hitam bermanfaat untuk mengurangi penyakit jantung koroner, kanker, diabetes dan stroke.
Sayangnya, menurut Taufik, manfaat yang terkandung dalam meminum teh hitam belum banyak diketahui oleh masyarakat. Hal ini disebabkan kurangnya sosialisasi maupun publikasi dari berbagai penelitian tentang manfaat black tea bagi kesehatan.
Beberapa waktu lalu, Pusat Jantung Nasional Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta (RSJHK) juga memaparkan hasil penelitiannya dalam talkshow dengan tema "Efek Teh Hitam dalam Mencegah dan Mengatasi Risiko Penyakit Jantung Koroner" di aula RSJHK Jakarta. Menurut hasil penelitian tersebut, Katekin dalam teh hitam, senyawa yang disebut-sebut sebagai aktor yang mampu melawan penyakit degeneratif adalah senyawa Theaflavin.
Senyawa Theaflavin merupakan antioksidan, anti kanker, anti mutagenik, antidiabetes dan anti penyakit lainnya. Senyawa Theaflavin dalam Teh hitam jumlahnya cukup signifikan.
Secara sederhana, antioksidan dinyatakan sebagai senyawa yang mampu menghambat atau mencegah terjadinya oksidasi. Berdasarkan sumbernya, anti oksidan dapat dibagi menjadi antioksidan alami dan sintetis.
Theaflavin merupakan antioksidan alami yang sangat potensial. Kemampuannya sebagai penangkap radikal bebas sudah tidak dapat dipungkiri lagi kesahihannya. Kemampuan theaflavin sebagai antioksidan ternyata tidak cukup sampai di situ.
Aktivitasnya sebagai antioksidan dalam menghambat oksidasi low density lippoprotein (LDL) ternyata menunjukkan hal yang menakjubkan. Dalam seduhan teh hitam, theaflavin memberikan warna merah kekuningan.
Sementara itu thearubigin dan theanapthoquinone masing-masing memberi warna merah kecoklatan dan kuning pekat. Untuk hal rasa, bersama-sama kafein, theaflavin yang ada dalam teh hitam memberikan rasa segar
Penelitian di Belanda menyimpulkan bahwa kebiasaan minum teh hitam dapat mencegah penimbunan kolesterol pada pembuluh darah arteri, terutama pada wanita. Minum teh hitam satu sampai dua cangkir mampu menekan penimbunan kolesterol hingga 46 persen dan jika minum 4 cangkir dapat mencapai 69 persen.
Hal tersebut ditunjang oleh hasil penelitian di Amerika Serikat yang menunjukkan serangan jantung berkurang 40 persen pada orang-orang yang membiasakan minum teh hitam.
Teh hitam juga menunjukkan kemampuan yang meyakinkan sebagai sumber bahan pangan alami bagi para penderita diabetes, terutama dalam kapasitasnya menaikkan aktivitas insulin.
Penelitian yang dilakukan Departemen Pertanian Amerika Serikat yang telah dipublikasikan dalam Journal Agric Food Chem 2002, menunjukkan kemampuan teh hitam meningkatkan aktifitas insulin melebihi dari teh hijau maupun teh Oolong.
Menurut Mohammad Taufik, biasanya, para ahli kesehatan akan mempublikasikan hasil penelitiannya, setelah beberapa kali melakukan penelitian. Bila hasil penelitiannya menunjukkan hasil yang sama, baru penelitian tersebut dipublikasikan. Namun bila baru satu kali penelitian, hasilnya belum akan dipublikasikan.
"Kalau penelitian itu baru sekali kami lakukan tidak mungkin kami mempublikasikannya. Biasanya penelitian yang telah dipublikasikan adalah penelitian yang telah berulang-ulang," ujar dokter sepesialis jantung ini.
Lebih Unggul
Berdasarkan proses pengolahannya, teh diklasifikasikan menjadi tiga jenis yaitu teh hitam (fermentasi atau oksimatis, kependekan dari oksidasi ensimatis), teh Oolong, dan teh hijau. Konsekuensi logis dari perbedaan proses tersebut, menyebabkan lahirnya perbedaan produk teh baik secara fisik maupun kimia.
Secara kimia, perbedaan yang paling menonjol adalah perbedaan kandungan komposisi senyawa polyfenol. Pada proses pengolahan teh hitam, dan teh Oolong, sebagian katekin berubah menjadi theaflavin, thearubigin, dan theanaphtoquinone.
Meski tidak sepopuler nenek moyangnya (katekin), theaflavin sudah banyak dipelajari oleh sejumlah peneliti. Sejumlah penelitian menyatakan bahwa theaflavin lebih potensial dari pada katekin, mengingat secara struktur theaflavin lebih potensial dari pada katekin.
Hal ini bisa dilihat dari seberapa banyak gugus hidroksi (OH) yang dimilikinya. Gugus hidroksi ini dapat berfungsi sebagai anti radikal bebas atau antioksidan. Semakin banyak gugus hidroksi suatu senyawa, maka kemampuannya sebagai senyawa antioksidan semakin baik.
Theaflavin hanya terdapat dalam teh hitam atau teh yang telah mengalami oksimatis. Theaflavin merupakan hasil oksidasi katekin akibat proses oksimatis pada pengolahan teh hitam. Kekuatan Theaflavin setara dengan Katekin bahkan beberapa publikasi terkini menyatakan bahwa theaflavin lebih potensial dari katekin.
Indonesia sendiri saat ini tercatat sebagai produsen teh terbanyak nomor lima di dunia. Namun teh hitam Indonesia berdasarkan penelitian, mengandung theaflavin yang lebih tinggi dibandingkan Jepang maupun China. Dengan demikian, jika kita meminum teh hitam asli Indonesia, kecenderungan mencegah penyakit jantung koroner seperti yang disebutkan di atas makin tinggi. Sayangnya hal ini belum banyak diketahui oleh bangsa Indonesia sendiri.
[suarakarya-online.com]
Selama ini teh hijau dipercaya mampu mengurangi serangan koroner, stroke, diabetes, darah tinggi, dan kanker hati menjadi penyakit yang menakutkan bagi setiap orang. Sehingga banyak produsen teh berlomba-lomba mengeluarkan produk minuman teh hijau kemasan yang lebih praktis. Tetapi benarkan hanya teh hijau yang berkhasiat seperti itu?
Guru Besar Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Ali Khomsan MS dan ahli kesehatan jantung Dr Mohammad Taufik Spj dalam sebuah diskusi tentang teh, di Bogor, belum lama ini mengemukakan, teh hitam (black tea) juga berkhasiat sama seperti teh hijau karena kandungan radikal bebas yang terkandung di dalamnya.
"Memang benar teh hitam mempunyai manfaat seperti menurunkan risiko kanker, mencegah jantung koroner, mencegah penuaan, dan juga bisa menurunkan kadar kolesterol dalam darah," kata Prof Dr Ali Khomsan.
Prof Ali menjelaskan, dari berbagai referensi, diketahui bahwa teh hitam yang selama ini dikonsumsi masyarakat kita cukup banyak mengandung komponen senyawa yang baik bagi tubuh. Utamanya adalah antioksidan serta Theaflavin cukup tinggi. Senyawa itulah yang mempunyai efek dapat mengurangi risiko-risiko penyakit seperti kanker dan mencegah jantung koroner. "Teh hitam atau black tea itu dibuat dari pucuk daun teh segar yang dibiarkan menjadi layu sebelum digulung, kemudian dipanaskan dan dikeringkan. Teh hitam disebut juga teh fermentasi" tutur Ali Khomsan.
Salah seorang pakar kesehatan jantung dari Kota Hujan Bogor, Dr H Mohammad Taufik SpJ mendukung pendapat Prof Dr Ali Khomsan yang menyebutkan teh hitam bermanfaat untuk mengurangi penyakit jantung koroner, kanker, diabetes dan stroke.
Sayangnya, menurut Taufik, manfaat yang terkandung dalam meminum teh hitam belum banyak diketahui oleh masyarakat. Hal ini disebabkan kurangnya sosialisasi maupun publikasi dari berbagai penelitian tentang manfaat black tea bagi kesehatan.
Beberapa waktu lalu, Pusat Jantung Nasional Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta (RSJHK) juga memaparkan hasil penelitiannya dalam talkshow dengan tema "Efek Teh Hitam dalam Mencegah dan Mengatasi Risiko Penyakit Jantung Koroner" di aula RSJHK Jakarta. Menurut hasil penelitian tersebut, Katekin dalam teh hitam, senyawa yang disebut-sebut sebagai aktor yang mampu melawan penyakit degeneratif adalah senyawa Theaflavin.
Senyawa Theaflavin merupakan antioksidan, anti kanker, anti mutagenik, antidiabetes dan anti penyakit lainnya. Senyawa Theaflavin dalam Teh hitam jumlahnya cukup signifikan.
Secara sederhana, antioksidan dinyatakan sebagai senyawa yang mampu menghambat atau mencegah terjadinya oksidasi. Berdasarkan sumbernya, anti oksidan dapat dibagi menjadi antioksidan alami dan sintetis.
Theaflavin merupakan antioksidan alami yang sangat potensial. Kemampuannya sebagai penangkap radikal bebas sudah tidak dapat dipungkiri lagi kesahihannya. Kemampuan theaflavin sebagai antioksidan ternyata tidak cukup sampai di situ.
Aktivitasnya sebagai antioksidan dalam menghambat oksidasi low density lippoprotein (LDL) ternyata menunjukkan hal yang menakjubkan. Dalam seduhan teh hitam, theaflavin memberikan warna merah kekuningan.
Sementara itu thearubigin dan theanapthoquinone masing-masing memberi warna merah kecoklatan dan kuning pekat. Untuk hal rasa, bersama-sama kafein, theaflavin yang ada dalam teh hitam memberikan rasa segar
Penelitian di Belanda menyimpulkan bahwa kebiasaan minum teh hitam dapat mencegah penimbunan kolesterol pada pembuluh darah arteri, terutama pada wanita. Minum teh hitam satu sampai dua cangkir mampu menekan penimbunan kolesterol hingga 46 persen dan jika minum 4 cangkir dapat mencapai 69 persen.
Hal tersebut ditunjang oleh hasil penelitian di Amerika Serikat yang menunjukkan serangan jantung berkurang 40 persen pada orang-orang yang membiasakan minum teh hitam.
Teh hitam juga menunjukkan kemampuan yang meyakinkan sebagai sumber bahan pangan alami bagi para penderita diabetes, terutama dalam kapasitasnya menaikkan aktivitas insulin.
Penelitian yang dilakukan Departemen Pertanian Amerika Serikat yang telah dipublikasikan dalam Journal Agric Food Chem 2002, menunjukkan kemampuan teh hitam meningkatkan aktifitas insulin melebihi dari teh hijau maupun teh Oolong.
Menurut Mohammad Taufik, biasanya, para ahli kesehatan akan mempublikasikan hasil penelitiannya, setelah beberapa kali melakukan penelitian. Bila hasil penelitiannya menunjukkan hasil yang sama, baru penelitian tersebut dipublikasikan. Namun bila baru satu kali penelitian, hasilnya belum akan dipublikasikan.
"Kalau penelitian itu baru sekali kami lakukan tidak mungkin kami mempublikasikannya. Biasanya penelitian yang telah dipublikasikan adalah penelitian yang telah berulang-ulang," ujar dokter sepesialis jantung ini.
Lebih Unggul
Berdasarkan proses pengolahannya, teh diklasifikasikan menjadi tiga jenis yaitu teh hitam (fermentasi atau oksimatis, kependekan dari oksidasi ensimatis), teh Oolong, dan teh hijau. Konsekuensi logis dari perbedaan proses tersebut, menyebabkan lahirnya perbedaan produk teh baik secara fisik maupun kimia.
Secara kimia, perbedaan yang paling menonjol adalah perbedaan kandungan komposisi senyawa polyfenol. Pada proses pengolahan teh hitam, dan teh Oolong, sebagian katekin berubah menjadi theaflavin, thearubigin, dan theanaphtoquinone.
Meski tidak sepopuler nenek moyangnya (katekin), theaflavin sudah banyak dipelajari oleh sejumlah peneliti. Sejumlah penelitian menyatakan bahwa theaflavin lebih potensial dari pada katekin, mengingat secara struktur theaflavin lebih potensial dari pada katekin.
Hal ini bisa dilihat dari seberapa banyak gugus hidroksi (OH) yang dimilikinya. Gugus hidroksi ini dapat berfungsi sebagai anti radikal bebas atau antioksidan. Semakin banyak gugus hidroksi suatu senyawa, maka kemampuannya sebagai senyawa antioksidan semakin baik.
Theaflavin hanya terdapat dalam teh hitam atau teh yang telah mengalami oksimatis. Theaflavin merupakan hasil oksidasi katekin akibat proses oksimatis pada pengolahan teh hitam. Kekuatan Theaflavin setara dengan Katekin bahkan beberapa publikasi terkini menyatakan bahwa theaflavin lebih potensial dari katekin.
Indonesia sendiri saat ini tercatat sebagai produsen teh terbanyak nomor lima di dunia. Namun teh hitam Indonesia berdasarkan penelitian, mengandung theaflavin yang lebih tinggi dibandingkan Jepang maupun China. Dengan demikian, jika kita meminum teh hitam asli Indonesia, kecenderungan mencegah penyakit jantung koroner seperti yang disebutkan di atas makin tinggi. Sayangnya hal ini belum banyak diketahui oleh bangsa Indonesia sendiri.
[suarakarya-online.com]
Cerdas Memilih Makanan
Cerdas Memilih Makanan
MEMILIH makanan tidak boleh sembarangan. Alih-alih sehat, jika salah memilih makanan, justru Anda akan mengalami kerugian.
Saat ini, sudah banyak pakar dan situs internet yang memberikan informasi tentang pentingnya memilih makanan. Di antara saran itu, antioksidan juga memegang peranan penting. Agar bisa mencapai kadar antioksidan yang cukup, sebaiknya Anda mengonsumsi makanan dengan minimal lima sampai enam variasi setiap harinya.
Jangan lupa konsumsi buah-buahan, seperti jambu, pisang, salak, juga anggur. Supaya tidak bosan, variasikan buah-buah tersebut atau bisa juga dijus. Namun, bila sulit untuk mengubah pola makan secara teratur, maka cara paling praktis adalah rajin mengonsumsi suplemen antioksidan.
Memilih suplemen antioksidan sebenarnya susah-susah gampang. Jika Anda mengonsumsi multivitamin, maka biasanya kandungan antioksidannya tidak cukup memadai. Namun, jika memilih suplemen antioksidan yang menekankan vitamin dan mineral tertentu, maka jumlah antioksidan yang diperlukan umumnya sudah mencukupi kebutuhan tubuh akan antioksidan.
Jika Anda terpikir untuk mengonsumsi multivitamin sekaligus suplemen antioksidan, ada baiknya Anda hitung dulu kandungannya dan sesuaikan dengan batasan yang diberikan. Agar lebih amannya lagi, berkonsultasilah dulu kepada dokter ahli gizi agar tidak salah langkah. Mencegah lebih baik daripada mengobati.
Dengan asupan antioksidan yang cukup, Anda pun bisa terhindar dari berbagai penyakit yang bersifat kronis. Mulai penyakit yang berkaitan dengan ketuaan (aging), penyakit kanker, penyakit pembuluh darah seperti jantung koroner dan penyakit degeneratif seperti dementia, parkinson dan alzheimer.
Penyakit ketuaan seperti ini sekarang tidak hanya terjadi pada orangtua, juga menyerang orang muda. Jadi, agar Anda terhindar dari berbagai penyakit yang menciutkan nyali, sebaiknya mulai memperhatikan asupan antioksidan sejak dini.
MEMILIH makanan tidak boleh sembarangan. Alih-alih sehat, jika salah memilih makanan, justru Anda akan mengalami kerugian.
Saat ini, sudah banyak pakar dan situs internet yang memberikan informasi tentang pentingnya memilih makanan. Di antara saran itu, antioksidan juga memegang peranan penting. Agar bisa mencapai kadar antioksidan yang cukup, sebaiknya Anda mengonsumsi makanan dengan minimal lima sampai enam variasi setiap harinya.
Jangan lupa konsumsi buah-buahan, seperti jambu, pisang, salak, juga anggur. Supaya tidak bosan, variasikan buah-buah tersebut atau bisa juga dijus. Namun, bila sulit untuk mengubah pola makan secara teratur, maka cara paling praktis adalah rajin mengonsumsi suplemen antioksidan.
Memilih suplemen antioksidan sebenarnya susah-susah gampang. Jika Anda mengonsumsi multivitamin, maka biasanya kandungan antioksidannya tidak cukup memadai. Namun, jika memilih suplemen antioksidan yang menekankan vitamin dan mineral tertentu, maka jumlah antioksidan yang diperlukan umumnya sudah mencukupi kebutuhan tubuh akan antioksidan.
Jika Anda terpikir untuk mengonsumsi multivitamin sekaligus suplemen antioksidan, ada baiknya Anda hitung dulu kandungannya dan sesuaikan dengan batasan yang diberikan. Agar lebih amannya lagi, berkonsultasilah dulu kepada dokter ahli gizi agar tidak salah langkah. Mencegah lebih baik daripada mengobati.
Dengan asupan antioksidan yang cukup, Anda pun bisa terhindar dari berbagai penyakit yang bersifat kronis. Mulai penyakit yang berkaitan dengan ketuaan (aging), penyakit kanker, penyakit pembuluh darah seperti jantung koroner dan penyakit degeneratif seperti dementia, parkinson dan alzheimer.
Penyakit ketuaan seperti ini sekarang tidak hanya terjadi pada orangtua, juga menyerang orang muda. Jadi, agar Anda terhindar dari berbagai penyakit yang menciutkan nyali, sebaiknya mulai memperhatikan asupan antioksidan sejak dini.
Asma Bisa Dikendalikan
Asma Bisa Dikendalikan
Asma atau peradangan pada seluruh percabangan saluran napas yang ditandai dengan penyempitan saluran napas, saat ini diperkirakan menyerang sekitar lima persen penduduk Indonesia dari segala usia. Asma perlu mendapat perhatian karena penyakit itu dapat menurunkan produktivitas dan meningkatkan beban ekonomi.
"Pengetahuan tentang penyakit asma perlu diketahui juga masyarakat umum untuk ikut membantu meminimalisasi faktor pencetus asma bagi penderitanya," kata dr Achmad Hudoyo, Sp P(K) dari Departemen Pulmonologi dan Ilmu Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dalam acara seminar tentang pengendalian asma, di Jakarta, belum lama ini.
Faktor yang meningkatkan terjadinya risiko serangan asma pada seseorang, menurut Achmad Hudoyo, selain faktor genetika, yang banyak terjadi akibat kondisi atau bahan tertentu yang mengakibatkan alergi serta kondisi lingkungan yang buruk.
"Selama ini hanya 30 persen asma yang terjadi karena faktor genetik, sisanya terpapar karena kondisi lingkungan yang buruk. Pengendalian faktor resiko dengan meningkatkan kualitas lingkungan sangatlah penting," ucapnya.
Meski hingga kini belum bisa disembuhkan, lanjut Achmad Hudoyo, asma sudah bisa dikendalikan. "Jadi sebenarnya mengobati asma secara tuntas adalah menghilangkan kedua faktor tersebut. Bila kedua faktor itu hilang, maka dapat dikatakan asmanya sudah `sembuh`," tuturnya.
Pegiat Yayasan Asma Indonesia itu lebih lanjut menjelaskan, untuk menghilangkan bakat asma yang biasanya diturunkan dari orang tua, harus dilakukan rekayasa genetika atau terapi gen sejak janin -- yang pada saat masih menjadi embrio dalam kandungan.
Namun, ia melanjutkan, hingga kini teknologi kedokteran belum mampu melakukan rekayasa genetik untuk menghilangkan bakat asma. "Karena itu yang bisa dilakukan oleh setiap orang adalah menghindari faktor pencetusnya," ucapnya.
Ia menjelaskan, serangan asma ringan berupa batuk berdahak pada malam hari menjelang pagi dan serangan berat berupa sesak napas disertai bunyi dan retraksi atau penarikan otot, bisa muncul bila ada faktor pencetus.
Menurut dia, faktor pencetus asma bisa berasal dari luar tubuh seperti cuaca (dingin, hujan, udara panas), debu, polusi udara, wewangian, makanan, zat kimia dan obat tertentu serta dari dalam tubuh seperti infeksi virus, sinusitis dan stress.
"Untuk tiap individu faktor pencetus asma bisa berbeda-beda, sehingga tidak bisa dibuat patokan secara umum. Misalnya, untuk orang tertentu dingin bisa mencetuskan asma, tetapi pada yang lain faktor pencetusnya bisa berupa udara panas," katanya.
Kondisi yang demikian, lanjutnya, membuat orang yang secara alami punya penyakit asma sangat sulit menghindari faktor pencetus, sehingga kemudian dibuat obat pencegah dan pelega asma. "Sebenarnya obat asma yang pertama adalah menghindari faktor pencetus, kedua menghindari faktor pencetus dan ketiga juga menghindari faktor pencetus, baru yang keempat menggunakan obat-obatan," katanya.
Achmad Hudoyo menjelaskan, obat asma terdiri atas obat pelega yang berfungsi untuk melebarkan saluran napas dengan mengendorkan otot saluran nafas yang sedang tegang atau bronkospasme, sedangkan obat pencegah berfungsi sebagai antiinflamasi (antiradang), untuk mempertahankan saluran napas tetap terbuka dan lega setelah menggunakan obat pelega.
Obat pelega, ia menambahkan, digunakan bila perlu yakni ketika ada gejala serangan asma baik ringan atau berat sedangkan obat pencegah dianjurkan digunakan setiap hari pada waktu pagi dan sore hari semaksimal mungkin, selama enam bulan sampai tidak muncul serangan lagi.
"Ini diperlukan karena faktor pencetus ternyata sangat beragam, dapat muncul setiap hari, dan bisa datang setiap saat," katanya.
Penggunaan obat pencegah dan pelega asma, katanya lebih lanjut, disesuaikan dengan tingkat keparahan penyakit asma yang diderita. Penderita gangguan asma ringan dengan frekuensi serangan jarang atau hanya sekali atau dua kali dalam setahun.
Karena itu, ia menyarankan untuk menggunakan obat pelega sedangkan penderita serangan asma sedang atau berat yang sering mengalami serangan diharuskan menggunakan obat pelega disertai obat pencegah.
Lebih lanjut Achmad Hudoyo menambahkan, bila upaya yang dilakukan untuk menghindari faktor pencetus asma berhasil maka gangguan asma pada penderita bisa dikendalikan. Gangguan asma, dikatakan terkontrol sebagian bila skor Asthma Control Test penderita yang bersangkutan 0-24 dan terkontrol total bila skornya 25.
Kriteria klinis asma yang terkontrol, katanya, terlihat bila penderita bebas gejala asma, aktivitas sehari-harinya tidak terganggu asma, tidak lagi mengalami gangguan ketika tidur, tidak lagi menggunakan obat pelega lagi dan hasil pemeriksaan faal parunya normal.
Achmad Hudoyo menjelaskan, bentuk obat asma yang ada saat ini cukup beragam, mulai dari suntikan, infus, diminum, dihisap atau disemprotkan ke dalam saluran napas. Injeksi atau infus biasanya hanya dilakukan dokter kepada penderita asma yang dirawat di unit gawat darurat rumah sakit, "Untuk penggunaan sehari-hari di rumah dianjurkan obat yang disemprot atau dihisap," katanya.
Obat hisap atau "inhaler", menurut dia, lebih dianjurkan karena obat hisap langsung terarah ke saluran nafas sehingga lebih cepat bekerja, dosisnya juga lebih sedikit yakni 1/10-1/20 dosis obat minum sehingga efek samping obat bisa dikurangi.
"Inhaler juga bekerja setempat, hanya ke saluran nafas, sehingga efek samping bisa ditekan, bahkan tidak ada efek samping sistemiknya," katanya.
Sementara pemakaian obat golongan steroid, menurut dia, harus dilakukan dengan strategi khusus karena meskipun terbukti paling ampuh untuk asma tapi memiliki efek samping.
Dalam hal ini, ia menjelaskan, pemakaian steroid jangka pendek masih dibenarkan tetapi penggunaan jangka panjang memerlukan cara khusus karena bisa berefek osteoporosis, muka seperti bulan (moonface), penekanan sumsum tulang, dan retensi cairan yang membuat tubuh mengandung banyak air.
Pada kesempatan yang sama, dr Nunung Rahayu dari Yayasan Penyantun Anak Asma Indonesia dan Lily Rosyana dari Yayasan Asma Indonesia mengatakan, pihaknya memiliki sejumlah program untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kemungkinan terkena serangan asma.
Bagi mereka yang sudah terkena serangan asma, lanjut Nunung Rahayu, pihaknya juga menggiatkan kampanye senam asma di sekitar lingkungan RT/RW yang baik tidak saja bagi penderita asma, tetapi juga masyarakat setempat. "Meski namanya senam asma, yang ikut boleh siapa saja yang berminat. Karena efeknya juga ikut membantu memperbaiki sistem pernapasan menjadi lebih baik," kata Nunung.
Selain itu, lanjut Nunung, pihaknya juga berupaya membantu penderita asma dari keluarga kurang mampu untuk mendapat pengobatan yang sesuai, termasuk bantuan pembelian obat antiinflamasi inhaler sebesar lima persen kepada penderita asma. "Memang jumlahnya hanya sedikit. Selebihnya mereka dibantu melalui program Jaminan Kesehatan Masyarakat," kata Nunung seraya menambahkan bahwa bantuan tersebut merupakan voucher yang diberikan pada mereka yang menjadi anggota klub Yayasan Asma Indonesia.
Asma atau peradangan pada seluruh percabangan saluran napas yang ditandai dengan penyempitan saluran napas, saat ini diperkirakan menyerang sekitar lima persen penduduk Indonesia dari segala usia. Asma perlu mendapat perhatian karena penyakit itu dapat menurunkan produktivitas dan meningkatkan beban ekonomi.
"Pengetahuan tentang penyakit asma perlu diketahui juga masyarakat umum untuk ikut membantu meminimalisasi faktor pencetus asma bagi penderitanya," kata dr Achmad Hudoyo, Sp P(K) dari Departemen Pulmonologi dan Ilmu Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dalam acara seminar tentang pengendalian asma, di Jakarta, belum lama ini.
Faktor yang meningkatkan terjadinya risiko serangan asma pada seseorang, menurut Achmad Hudoyo, selain faktor genetika, yang banyak terjadi akibat kondisi atau bahan tertentu yang mengakibatkan alergi serta kondisi lingkungan yang buruk.
"Selama ini hanya 30 persen asma yang terjadi karena faktor genetik, sisanya terpapar karena kondisi lingkungan yang buruk. Pengendalian faktor resiko dengan meningkatkan kualitas lingkungan sangatlah penting," ucapnya.
Meski hingga kini belum bisa disembuhkan, lanjut Achmad Hudoyo, asma sudah bisa dikendalikan. "Jadi sebenarnya mengobati asma secara tuntas adalah menghilangkan kedua faktor tersebut. Bila kedua faktor itu hilang, maka dapat dikatakan asmanya sudah `sembuh`," tuturnya.
Pegiat Yayasan Asma Indonesia itu lebih lanjut menjelaskan, untuk menghilangkan bakat asma yang biasanya diturunkan dari orang tua, harus dilakukan rekayasa genetika atau terapi gen sejak janin -- yang pada saat masih menjadi embrio dalam kandungan.
Namun, ia melanjutkan, hingga kini teknologi kedokteran belum mampu melakukan rekayasa genetik untuk menghilangkan bakat asma. "Karena itu yang bisa dilakukan oleh setiap orang adalah menghindari faktor pencetusnya," ucapnya.
Ia menjelaskan, serangan asma ringan berupa batuk berdahak pada malam hari menjelang pagi dan serangan berat berupa sesak napas disertai bunyi dan retraksi atau penarikan otot, bisa muncul bila ada faktor pencetus.
Menurut dia, faktor pencetus asma bisa berasal dari luar tubuh seperti cuaca (dingin, hujan, udara panas), debu, polusi udara, wewangian, makanan, zat kimia dan obat tertentu serta dari dalam tubuh seperti infeksi virus, sinusitis dan stress.
"Untuk tiap individu faktor pencetus asma bisa berbeda-beda, sehingga tidak bisa dibuat patokan secara umum. Misalnya, untuk orang tertentu dingin bisa mencetuskan asma, tetapi pada yang lain faktor pencetusnya bisa berupa udara panas," katanya.
Kondisi yang demikian, lanjutnya, membuat orang yang secara alami punya penyakit asma sangat sulit menghindari faktor pencetus, sehingga kemudian dibuat obat pencegah dan pelega asma. "Sebenarnya obat asma yang pertama adalah menghindari faktor pencetus, kedua menghindari faktor pencetus dan ketiga juga menghindari faktor pencetus, baru yang keempat menggunakan obat-obatan," katanya.
Achmad Hudoyo menjelaskan, obat asma terdiri atas obat pelega yang berfungsi untuk melebarkan saluran napas dengan mengendorkan otot saluran nafas yang sedang tegang atau bronkospasme, sedangkan obat pencegah berfungsi sebagai antiinflamasi (antiradang), untuk mempertahankan saluran napas tetap terbuka dan lega setelah menggunakan obat pelega.
Obat pelega, ia menambahkan, digunakan bila perlu yakni ketika ada gejala serangan asma baik ringan atau berat sedangkan obat pencegah dianjurkan digunakan setiap hari pada waktu pagi dan sore hari semaksimal mungkin, selama enam bulan sampai tidak muncul serangan lagi.
"Ini diperlukan karena faktor pencetus ternyata sangat beragam, dapat muncul setiap hari, dan bisa datang setiap saat," katanya.
Penggunaan obat pencegah dan pelega asma, katanya lebih lanjut, disesuaikan dengan tingkat keparahan penyakit asma yang diderita. Penderita gangguan asma ringan dengan frekuensi serangan jarang atau hanya sekali atau dua kali dalam setahun.
Karena itu, ia menyarankan untuk menggunakan obat pelega sedangkan penderita serangan asma sedang atau berat yang sering mengalami serangan diharuskan menggunakan obat pelega disertai obat pencegah.
Lebih lanjut Achmad Hudoyo menambahkan, bila upaya yang dilakukan untuk menghindari faktor pencetus asma berhasil maka gangguan asma pada penderita bisa dikendalikan. Gangguan asma, dikatakan terkontrol sebagian bila skor Asthma Control Test penderita yang bersangkutan 0-24 dan terkontrol total bila skornya 25.
Kriteria klinis asma yang terkontrol, katanya, terlihat bila penderita bebas gejala asma, aktivitas sehari-harinya tidak terganggu asma, tidak lagi mengalami gangguan ketika tidur, tidak lagi menggunakan obat pelega lagi dan hasil pemeriksaan faal parunya normal.
Achmad Hudoyo menjelaskan, bentuk obat asma yang ada saat ini cukup beragam, mulai dari suntikan, infus, diminum, dihisap atau disemprotkan ke dalam saluran napas. Injeksi atau infus biasanya hanya dilakukan dokter kepada penderita asma yang dirawat di unit gawat darurat rumah sakit, "Untuk penggunaan sehari-hari di rumah dianjurkan obat yang disemprot atau dihisap," katanya.
Obat hisap atau "inhaler", menurut dia, lebih dianjurkan karena obat hisap langsung terarah ke saluran nafas sehingga lebih cepat bekerja, dosisnya juga lebih sedikit yakni 1/10-1/20 dosis obat minum sehingga efek samping obat bisa dikurangi.
"Inhaler juga bekerja setempat, hanya ke saluran nafas, sehingga efek samping bisa ditekan, bahkan tidak ada efek samping sistemiknya," katanya.
Sementara pemakaian obat golongan steroid, menurut dia, harus dilakukan dengan strategi khusus karena meskipun terbukti paling ampuh untuk asma tapi memiliki efek samping.
Dalam hal ini, ia menjelaskan, pemakaian steroid jangka pendek masih dibenarkan tetapi penggunaan jangka panjang memerlukan cara khusus karena bisa berefek osteoporosis, muka seperti bulan (moonface), penekanan sumsum tulang, dan retensi cairan yang membuat tubuh mengandung banyak air.
Pada kesempatan yang sama, dr Nunung Rahayu dari Yayasan Penyantun Anak Asma Indonesia dan Lily Rosyana dari Yayasan Asma Indonesia mengatakan, pihaknya memiliki sejumlah program untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kemungkinan terkena serangan asma.
Bagi mereka yang sudah terkena serangan asma, lanjut Nunung Rahayu, pihaknya juga menggiatkan kampanye senam asma di sekitar lingkungan RT/RW yang baik tidak saja bagi penderita asma, tetapi juga masyarakat setempat. "Meski namanya senam asma, yang ikut boleh siapa saja yang berminat. Karena efeknya juga ikut membantu memperbaiki sistem pernapasan menjadi lebih baik," kata Nunung.
Selain itu, lanjut Nunung, pihaknya juga berupaya membantu penderita asma dari keluarga kurang mampu untuk mendapat pengobatan yang sesuai, termasuk bantuan pembelian obat antiinflamasi inhaler sebesar lima persen kepada penderita asma. "Memang jumlahnya hanya sedikit. Selebihnya mereka dibantu melalui program Jaminan Kesehatan Masyarakat," kata Nunung seraya menambahkan bahwa bantuan tersebut merupakan voucher yang diberikan pada mereka yang menjadi anggota klub Yayasan Asma Indonesia.
Wanita Merokok, Waspadai Menopause Dini
Wanita Merokok, Waspadai Menopause Dini
Perempuan yang merokok sangat mungkin untuk mulai memasuki masa menopause sebelum usia 45 tahun dan juga membuat mereka menghadapi resiko osteoporosis dan serangan jantung, demikian laporan beberapa peneliti Norwegia.
"Di antara sebanyak 2.123 perempuan yang berusia 59 sampai 60 tahun, mereka yang saat ini merokok, 59% lebih mungkin mengalami menopause dini dibandingkan dengan perempuan yang tidak merokok," kata Dr. Thea F. Mikkelsen dari University of Oslo dan rekannya.
Bagi perokok paling berat, resiko menopause dini hampir dua kali lipat. Namun, perempuan yang dulunya merokok, tapi berhenti setidaknya 10 tahun sebelum menopause, pada dasarnya kurang mungkin untuk berhenti menstruasi dibandingkan dengan perokok sebelum usia 45 tahun.
Ada bukti bahwa merokok belakangan dalam kehidupan membuat seorang perempuan lebih mungkin untuk mengalami menopause dini, sedangkan perokok yang berhenti sebelum berusia setengah baya mungkin tak terpengaruh, kata Mikkelsen dan timnya di dalam jurnal Online, BMC Public Health.
Mereka meneliti hubungan lebih lanjut dan menetapkan apakah menjadi perokok pasif juga mungkin mempengaruhi waktu menopause. Para peneliti tersebut mendapati bahwa hampir 10% perempuan memasuki menopause sebelum usia 45 tahun.
Sebanyak 25% adalah perokok saat ini, 28,7% adalah mantan perokok dan 35,2% dilaporkan perokok pasif saat ini. Perokok saat ini adalah 59% lebih mungkin untuk memasuki menopause sebelum usia 45 tahun, sedangkan menopause dini hampir dua kali lebih umum di kalangan perempuan yang merokok paling banyak.
Namun perempuan yang telah berhenti merokok setidaknya satu dasawarsa
sebelum menopause adalah 87% lebih mungkin dibandingkan dengan rekan sebaya mereka yang saat ini merokok dan telah memasuki masa menopause dini.
Dibandingkan dengan perempuan yang menikah, para janda juga menghadapi peningkatan resiko menopause dini, seperti juga perempuan yang mengatakan kondisi kesehatan mereka buruk. Perempuan yang lebih berpendidikan kurang mungkin untuk memasuki menopause dini, tapi mereka juga kurang mungkin menjadi perokok.
Keterlibatan pada kegiatan sosial juga mengurangi resiko menopause dini. Para peneliti tersebut tak menemukan hubungan antara konsumsi kopi atau alkohol atau perokok pasif dengan resiko menopause dini.
"Lebih cepat seorang perempuan berhenti merokok," kata Mikkelsen dan timnya, "Lebih banyak perlindungan yang ia dapatkan sehubungan dengan datangnya menopause dini."
Perempuan yang merokok sangat mungkin untuk mulai memasuki masa menopause sebelum usia 45 tahun dan juga membuat mereka menghadapi resiko osteoporosis dan serangan jantung, demikian laporan beberapa peneliti Norwegia.
"Di antara sebanyak 2.123 perempuan yang berusia 59 sampai 60 tahun, mereka yang saat ini merokok, 59% lebih mungkin mengalami menopause dini dibandingkan dengan perempuan yang tidak merokok," kata Dr. Thea F. Mikkelsen dari University of Oslo dan rekannya.
Bagi perokok paling berat, resiko menopause dini hampir dua kali lipat. Namun, perempuan yang dulunya merokok, tapi berhenti setidaknya 10 tahun sebelum menopause, pada dasarnya kurang mungkin untuk berhenti menstruasi dibandingkan dengan perokok sebelum usia 45 tahun.
Ada bukti bahwa merokok belakangan dalam kehidupan membuat seorang perempuan lebih mungkin untuk mengalami menopause dini, sedangkan perokok yang berhenti sebelum berusia setengah baya mungkin tak terpengaruh, kata Mikkelsen dan timnya di dalam jurnal Online, BMC Public Health.
Mereka meneliti hubungan lebih lanjut dan menetapkan apakah menjadi perokok pasif juga mungkin mempengaruhi waktu menopause. Para peneliti tersebut mendapati bahwa hampir 10% perempuan memasuki menopause sebelum usia 45 tahun.
Sebanyak 25% adalah perokok saat ini, 28,7% adalah mantan perokok dan 35,2% dilaporkan perokok pasif saat ini. Perokok saat ini adalah 59% lebih mungkin untuk memasuki menopause sebelum usia 45 tahun, sedangkan menopause dini hampir dua kali lebih umum di kalangan perempuan yang merokok paling banyak.
Namun perempuan yang telah berhenti merokok setidaknya satu dasawarsa
sebelum menopause adalah 87% lebih mungkin dibandingkan dengan rekan sebaya mereka yang saat ini merokok dan telah memasuki masa menopause dini.
Dibandingkan dengan perempuan yang menikah, para janda juga menghadapi peningkatan resiko menopause dini, seperti juga perempuan yang mengatakan kondisi kesehatan mereka buruk. Perempuan yang lebih berpendidikan kurang mungkin untuk memasuki menopause dini, tapi mereka juga kurang mungkin menjadi perokok.
Keterlibatan pada kegiatan sosial juga mengurangi resiko menopause dini. Para peneliti tersebut tak menemukan hubungan antara konsumsi kopi atau alkohol atau perokok pasif dengan resiko menopause dini.
"Lebih cepat seorang perempuan berhenti merokok," kata Mikkelsen dan timnya, "Lebih banyak perlindungan yang ia dapatkan sehubungan dengan datangnya menopause dini."
Langganan:
Postingan (Atom)