Selamat Datang Para Alumni SMU P@nbat T.A - 03 and Visitor....
Selamat Menikmati seluruh fasilitas yang tersedia di blogger ini..
Tampilkan postingan dengan label Tahukah Anda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tahukah Anda. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Juli 2009

Trik Pintar Cegah Phishing di Facebook

Trik Pintar Cegah Phishing di Facebook







Apakah mail di inbox Facebook membuat jengah karena phishing?

Serangan phishing telah mengirim pesan ke inbox Facebook yang menjadi korbannya, seperti layaknya notifikasi email dengan subject “Hi” atau “Hello”. Email tersebut tampil tampak seperti asli dari teman korban dan termasuk text yang menanyakan user untuk mengunjungi halaman login Facebook yang palsu, lalu attacker akan mencuri informasi login rahasia untuk melancarkan serangan phishing-nya di kemudian hari.

Jika konsumen ingin mencegah pesan phishing tersebut ke lingkungan teman terpercaya mereka di Facebook, maka Symantec telah memberikan saran berikut.


Maintain caution level
Selalu memaintain level peringatan untuk pesan yang masuk dari sebuah website atau yang tertampil atau dikirimkan dari website. Jika user menggunakan klik di link, maka user bisa double-check domain actual yang tertampil di bagian atas halaman. Atau setidaknya akan lebih aman jika user langsung mengetikkan alamat web langsung di address bar daripada membuka link dari pesan.


Username dan password unik


Menggunakan password dan username yang unik dan berbeda untuk setiap situs atau account.
User bisa menggunakan kombinasi huruf besar dan kecil, simbol dan angka.
Pastikan password memiliki panjang minimal 8 karakter, semakin panjang karakter password, makin susah ditebak.
User bisa menggunakan password secara acak dan meaningless, tidak menggunakan nama atau angka yang terkait dengan nickname atau tanggal ulang tahun.
User dapat mengubah password secara rutin, tidak menuliskan password di kertas atau apapun atau memberitahukan ke orang lain.
Tidak menggunakan nama asli di form login atau username atau nama keluarga, nama peliharaan, atau nama keturunan, nomor telepon, alamat, dan sebagainya.
Maintain browser dan system operasi dengan software keamanan.

Double check ketika sudah sampai dia alamat website yang dituju.
Ketika klik di Facebook atau situs lain, untuk selalu melihat tulisan di line address bar yang ada apakah sudah sesuai atau tidak.

User setidaknya waspada dan curiga mengenai permintaan website untuk memasukkan nama account dan password

(h_n)

Kamis, 16 Juli 2009

REMAJA DAN HUBUNGAN SEKSUAL PRANIKAH

REMAJA DAN HUBUNGAN SEKSUAL PRANIKAH


Remaja kota kini semakin berani melakukan hubungan seksual pranikah. Nampaknya hal itu berkaitan dengan hasil sebuah penelitian, 10 - 12% remaja di Jakarta pengetahuan seksnya sangat kurang. Ini mengisyaratkan pendidikan seks bagi anak dan remaja secara intensif terutama di rumah dan di sekolah, makin penting.
Pengetahuan yang setengah-setengah justru lebih berbahaya ketimbang tidak tahu sama sekali. Kata-kata bijak ini nampaknya juga berlaku bagi para remaja tentang pengetahuan seks kendati dalam hal ini ketidaktahuan bukan berarti lebih tidak berbahaya. Data yang dikumpulkan dr. Boyke Dian Nugraha, DSOG, ahli kebidanan dan penyakit kandungan pada RS Dharmais, menunjukkan 16 - 20% dari remaja yang berkonsultasi kepadanya telah melakukan hubungan seks pranikah. Dalam catatannya jumlah kasus itu cenderung naik; awal tahun 1980-an angka itu berkisar 5 - 10%.
Sementara itu Dra. Yulia S. Singgih Gunarsa, psikolog dan konselor di sebuah sekolah swasta di Jakarta, juga melihat fenomena banyaknya pasangan remaja yang berhubungan dengan calo jasa pengguguran kandungan di Jakarta Pusat dan penggunaan obat-obat pencegah kehamilan.

Data tersebut mungkin tidak mewakili kenyataan sebenarnya, yang bisa menunjukkan angka lebih tinggi atau lebih rendah. Namun setidaknya kasus hubungan seksual pranikah itu ada hubungannya dengan hasil suatu penelitian para dokter di Jakarta. Seperti dikutip Boyke, 10 - 12% remaja di Jakarta pengetahuan seksnya sangat kurang.

Dalam kaitan dengan hubungan seksual, bisa diambil contoh ada remaja yang berpendapat, kalau hanya sekali bersetubuh, tidak bakal terjadi kehamilan. Atau, meloncat-loncat atau mandi sampai bersih segera setelah melakukan hubungan seksual bisa mencegah kehamilan.

Pengetahuan seks yang hanya setengah-setengah tidak hanya mendorong remaja untuk mencoba-coba, tapi juga bisa menimbulkan salah persepsi. Misalnya saja, berciuman atau berenang di kolam renang yang "tercemar" sperma bisa mengakibatkan kehamilan, mimpi basah dikira mengidap penyakit kotor, kecil hati gara-gara ukuran penis kecil, sering melakukan onani bisa menimbulkan impotensi.

Beberapa akibat yang tentunya memprihatinkan ialah terjadinya pengguguran kandungan dengan berbagai risikonya, perceraian pasangan keluarga muda, atau terjangkitnya penyakit menular seksual, termasuk HIV yang kini sudah mendekam di tubuh ratusan orang di Indonesia. Bandingkan dengan temuan Marlene M. Maheu, Ph.D., psikolog yang berpraktek di Kalifornia, AS, bahwa setiap tahun terdapat 1 dari 18 gadis remaja Amerika Serikat hamil sebelum nikah dan 1 dari 5 pasien AIDS tertular HIV pada usia remaja.

Dibentak ortu
Melihat kenyataan itu, pendidikan seks secara intensif sejak dini hingga masa remaja tidak bisa ditawar-tawar lagi. Apalagi mengingat, "Sebagian besar penularan AIDS terjadi melalui hubungan seksual," tegas Boyke yang juga pengasuh rubrik konsultasi seks di majalah dan radio. Kalau tidak, mereka yang kini remaja tidak bisa berbuat banyak saat memasuki usia produktif di abad XXI mendatang.

Seperti dikutip Boyke, survai oleh WHO tentang pendidikan seks membuktikan, pendidikan seks bisa mengurangi atau mencegah perilaku hubungan seks sembarangan, yang berarti pula mengurangi tertularnya penyakit-penyakit akibat hubungan seks bebas.

Disebutkan pula, pendidikan seks yang benar harus memasukkan unsur-unsur hak azasi manusia. Juga nilai-nilai kultur dan agama diikutsertakan di dalamnya sehingga akan merupakan pendidikan akhlak dan moral juga. Dengan itu diharapkan angka perceraian yang berdampak kurang baik terhadap anak-anak pun dapat dikurangi.

Hanya yang jadi soal hingga kini, "Pendidikan seks di Indonesia masih mengundang kontroversi. Masih banyak anggota masyarakat yang belum menyetujui pendidikan seks di rumah maupun di sekolah," tutur dr. Gerard Paat, kolsultan keluarga RS Sint Carolus.

Sekalipun untuk tujuan pendidikan, anggapan tabu untuk berbicara soal seks masih menancap dalam benak sebagian masyarakat. Akibatnya, anak-anak yang berangkat remaja jarang yang mendapat bekal pengetahuan seks yang cukup dari ortu (orang tua). Padahal tidak jarang para remaja sendiri yang berinisiatif bertanya, tapi justru sering disambut dengan "kemarahan" ortu. "Boro-boro mau ngejelasin soal seks, baru nanya sedikit aja, nyokap (ibu) sudah mbentak, 'Eh itu tabu, jangan diomongin!'" aku seorang remaja putri.

Bahkan anak-anak yang kedua orang tuanya bekerja rata-rata kehilangan panutan. "Orang tua yang mestinya menjadi tokoh panutan utama, justru kurang berperan karena kesibukan mereka sendiri," kata dr. Paat, yang sejak akhir tahun 1960-an memberikan penyuluhan seks di sekolah dan luar sekolah.

Film, buku, dan motel
Dampaknya tentu bisa ke mana-mana. Antara lain dalam memilih konsumsi tontonan di TV yang masih berat dengan tayangan film barat dengan budaya dan gaya hidup yang berbeda. Kehidupan dunia barat yang digambarkan dalam film ataupun video, menurut Boyke, sering kali menunjukkan kehidupan seks bebas di kalangan remaja. Tayangan serial macam Beverly Hills atau Bay Watch, Boyke menyebut contoh, dengan bintang-bintang molek dan tampan itu mudah sekali merasuk ke dalam benak remaja. Sehingga mereka bisa amat mudah meniru gaya hidup muda-mudi dalam film itu.

"Justru ketika informasi seperti itu tidak bisa kita hindari, peranan orang tua untuk memberikan pengertian yang benar pada anak-anak menjadi penting," tutur Boyke.

Minimnya pengetahuan seks masih ditambah lagi dengan mudahnya mendapatkan prasarana untuk melakukan seks bebas seperti di motel, cottage, vila; alat kontrasepsi; lebih mudanya rata-rata gadis mendapatkan haid (9 - 11 th); serta tertundanya usia perkawinan. Semua itu juga faktor yang ikut mempengaruhi remaja melakukan kegiatan seks bebas dan kumpul kebo.

Celakanya, "Remaja yang sudah terbiasa mengadakan hubungan seksual akan sulit menghentikannya," jelas Paat. Itu bukan semata-mata karena faktor ketagihan, tapi terutama akibat timbulnya persepsi bahwa melakukan hubungan seksual sudah merupakan hal biasa.

Kalau itu sampai terjadi, ortu harus ikut bertanggung jawab. "Orang tualah yang seharusnya pertama-tama memberikan pengetahuan seks bagi anak-anaknya. Informasi seks dari teman, film, atau buku, yang hanya setengah-setengah tanpa pengarahan, mudah menjerumuskan. Apalagi kalau si anak tidak tahu risiko melakukan hubungan seksual pranikah," kata Boyke.

Menurut Paat, pendidikan seks pasif, karena tanpa komunikasi dua arah semacam itu, sudah bisa mempengaruhi sikap serta perilaku seseorang. "Dalam pendidikan seks anak tidak cukup hanya melihat dan mendengar sekali-dua kali, tapi harus dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan," katanya. Sebab itu, pendidikan seks hendaknya menjadi bagian penting dalam pendidikan di sekolah. Orang tua dan pendidik wajib meluruskan informasi yang tidak benar disertai penjelasan risiko perilaku seks yang salah.

Namun, pendidikan seks di sekolah mestinya hanya pelengkap pendidikan seks di rumah. Bukan justru menjadi yang utama seperti terjadi selama ini, kendati pendidikan seks di sekolah, menurut beberapa pengamat tadi, masih belum optimal.

Pacaran jangan dilarang
Pemberian pengetahuan seks mesti di rumah dilakukan sejak dini dan dimulai dengan perilaku keseharian anak-anak. Ketika masih anak-anak misalnya, berikan pengertian kepada mereka agar tidak ke luar dari kamar mandi sambil telanjang, menutup pintu kamar mandi ketika sedang mandi, mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk kamar ortu.

Ketika sudah menginjak bangku SD, remaja putri khususnya, mesti sudah dipersiapkan menghadapi masa akil balik. Pada usia sekitar 14 tahun, remaja putri maupun putra rata-rata mulai ingin tahu segala sesuatu tentang lawan jenisnya. "Ini merupakan proses pendewasaan diri, dan tak bisa dicegah," tegas Boyke. Di sinilah ortu mesti mulai lebih sering mengadakan pendekatan dan memasukkan nilai-nilai moral kepada anak.

Pada saat mereka mulai berpacaran di usia yang sudah cukup, kata Boyke, tak perlu dilarang-larang. Berpacaran merupakan latihan pendewasaan dan pematangan emosi. Dengan berpacaran mereka bisa merasakan rasa rindu atau rasa memiliki, dan berlatih bagaimana harus ber-sharing dengan pasangan. Pada masa ini orang tua remaja putri hendaknya berperan menjadi teman berdiskusi sambil meneliti siapa pacarnya itu.

Dalam hal ini dibutuhkan komunikasi lebih terbuka antara ortu-anak. Melalui komunikasi, yang acap kali banyak diabaikan peranannya, ortu dapat memasukkan hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Misalnya, batas mereka boleh bermesraan dan apa konsekuensinya kalau batas itu dilanggar. Kepercayaan dari ortu akan membuat mereka lebih bertanggung jawab.

Berpacaran secara sembunyi-sembunyi akibat tidak diberi kepercayaan justru tidak menguntungkan. "Ingat, kasus-kasus kehamilan pranikah umumnya dilakukan oleh mereka yang back street," kata Boyke. "Mungkin juga akibat hubungan dengan orang tua kurang akrab atau orang tua terlalu kaku."

Dr. Paat maupun dr. Boyke menyatakan, penjelasan mengenai risiko melakukan hubungan seksual pranikah perlu ditekankan. Umpamanya, kehamilan, kemungkinan terinfeksi HIV atau tertular penyakit kelamin kalau bergonta-ganti pasangan. Bila terjadi kehamilan dan kandungan terpaksa digugurkan, mereka menghadapi kemungkinan perdarahan, infeksi, kemandulan, bahkan kematian. Belum lagi stres atau rasa berdosa yang bakal dihadapi si anak. Juga diingatkan, dengan anak yang mereka lahirkan di luar nikah, mereka juga yang mesti bertanggungjawab sebagai ayah dan ibunya. Jangan lupa pula, "Jagalah agar jiwa mereka tidak banyak terganggu, apalagi selama mereka masih belum dewasa, masih harus sekolah, dan lain-lain," tambah Yulia.

Kapan saja, di mana saja
Penjelasan yang baik mampu membuka mata mereka betapa melakukan hubungan seksual pranikah itu tidak ada untungnya. Ini misalnya terbukti ketika dr. Boyke membagikan kuesioner kepada peserta seminar remaja. Jawaban mereka sebelum dan sesudah mendengarkan ceramah bertolak belakang. Sebelum seminar, mereka rata-rata menyetujui hubungan seksual sebelum nikah. Tapi sesudahnya, 90% peserta menyatakan tidak setuju. Juga terungkap, mereka setuju adanya pendidikan seks, hanya tidak tahu harus ke mana memperolehnya.

Penyampaian materi pendidikan seks di rumah sebaiknya dilakukan kedua orang tua. "Sebelum usia 10 tahun pendidikan bisa diberikan secara bergantian, tapi umumnya ibu yang lebih berperan," kata Paat. Menjelang akil balik, saat sudah terjadi proses diferensiasi jenis kelamin dan mulai muncul rasa malu (pada wanita mengalami haid, pertumbuhan payudara, dan pada laki-laki mengalami mimpi basah dan perubahan suara), sebaiknya ibu memberi penjelasan kepada anak perempuan dan ayah kepada anak laki-laki. "Sekali waktu boleh diadakan komunikasi silang. Misalnya, kepada anak perempuannya seorang ayah dapat berdiskusi bagaimana perasaan-perasaan pria bila jatuh cinta, atau sebaliknya kepada anak laki-lakinya, ibu bisa mengungkapkan bagaimana perasaan seorang wanita bila didekati pria."

Menjelaskan tentang seks juga tidak perlu secara eksklusif. Itu bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Saat sedang sibuk memasak, misalnya, tiba-tiba si anak bertanya tentang kehamilan. Sang ibu tidak perlu menangguhkan jawaban atau menjanjikan jawaban akan diberikan panjang lebar di kamar, tapi bisa langsung saat itu juga. Tindakan eksklusif, menurut Paat, malah membuat si anak bisa berkesimpulan, seks merupakan sesuatu yang luar biasa dan harus dirahasiakan. Padahal pertanyaan seperti itu lumrah dan merupakan bagian dari kehidupannya.

"Kalau anak kita sama sekali tidak pernah bertanya soal seks, jangan dikira pasti beres. Coba pancinglah dengan buku," jelas Paat. "Keterangan dalam buku yang kurang jelas bisa didiskusikan dengan orang tua," tambah Boyke.

Di RT pun bisa
Pendidikan seks di sekolah, demikian Yulia dan Paat, hendaknya tidak terpisah dari pendidikan pada umumnya, dan bersifat terpadu. Ia bisa dimasukkan ke dalam pelajaran ilmu biologi, kesehatan, moral dan etika secara bertahap dan terus menerus. Mereka juga mensyaratkan penekanan pada pendidikan moral, meski tidak perlu sedetail pendidikan agama, agar pendidikan seks diterima murid sebagai suatu ilmu yang tidak untuk dipraktekkan sebelum waktunya.

Sekali waktu penyuluhan seks juga perlu diadakan. Misalnya, soal menghadapi masa haid dan mimpi basah bisa diberikan kepada anak kelas VI SD, proses terjadinya bayi (spermatozoa bertemu dengan sel telur) mulai diberikan kepada murid SLTP. Selanjutnya masalah kebebasan seks, alat kontrasepsi sampai hubungan seks (bukan tekniknya) diberikan kepada anak SLTA.

Menurut Yulia, penjelasan tentang program pendidikan seks yang hendak disampaikan kepada murid perlu juga diketahui orang tua murid. Maksudnya, agar mereka bisa memberi jawaban dan tidak terkejut bila tiba-tiba si anak atau remaja bertanya soal seks kepada mereka. "Karena, kadang-kadang ada anak yang dengan begitu bangga bercerita tentang pengetahuan seks yang baru diberikan di sekolah," tutur Yulia.

Dr. Paat dan dr. Boyke saling berbeda pendapat dalam soal penyampaian informasi tentang alat kontrasepsi. "Alat kontrasepsi macam kondom bukan rahasia lagi, karena dapat dibeli di mana-mana. Yang penting, mereka diberi penjelasan bahwa pemakaian sebelum menikah merupakan pelanggaran nilai-nilai moral dan agama," kata Paat. Sedangkan Boyke kurang setuju memperkenalkan pemakaiannya kepada remaja, karena khawatir disalahgunakan.

Lebih tepat, kata Paat, kalau tema penyuluhan didasarkan pada pendekatan pemecahan masalah (problem solving approach), yakni penyuluhan disertai kesempatan berkonsultasi dengan guru, konsultan psikologi di sekolah, atau guru agama. Pasalnya, masalah yang dihadapi setiap murid berbeda-beda.

Dalam hal ini Dra. Yulia menganggap penting peran guru bimbingan dan penyuluhan (BP). Guru-guru ini tak cuma sebagai guru BP, tapi juga mesti tahu soal pendidikan seks. "Kadang-kadang murid segan bertanya kepada orang tua. Atau, pernah bertanya malah dimarahi bapak atau ibunya," jelas Yulia. Dengan adanya kesempatan berkonsultasi, si anak bisa mengutarakan masalah pribadinya.

Selain di sekolah, "Di tingkat RT pun sebetulnya bisa sekali waktu diselenggarakan ceramah tentang seks bagi para orang tua atau remaja dengan bantuan dokter Puskesmas untuk mengisi kekosongan itu," kata Boyke.

Usul itu boleh juga. Bagaimanapun pendidikan seks bukan semata-mata tanggung jawab orang tua dan pendidik, tetapi juga masyarakat. (Nanny Selamihardja/I Gede Agung Yudana)

Sampanye Termahal di Dunia ( Rp 2,5 M / Botol )

Sampanye Termahal di Dunia ( Rp 2,5 M / Botol )


Sebanyak 200 botol sampanye yang terpendam di dasar laut selama lebih dari 80 tahun dijual 156.000 poundsterling (sekitar Rp 2,5 miliar) per botol di sebuah hotel di Rusia.

Sampanye penuh gelembung keluaran tahun 1907 itu sebenarnya dikirim untuk keluarga kerajaan Rusia tahun 1916 dari pabriknya di Heidsieck, Perancis. Namun, kapal yang mengangkutnya terlebih dulu tenggelam di lepas pantai Finlandia sebelum mencapai Moskwa.

Kapal yang karam itu lantas ditemukan oleh sekelompok penyelam pada 1997 silam. Mereka menemukan botol-botol tersebut masih dalam keadaan tertutup dan tanpa kerusakan. Botol-botol sampanye itu lantas dibeli manajemen Hotel Ritz-Carlton, Moskwa.

Hotel itu memasukkan sampanye berumur 80 tahun itu dalam daftar menu mereka dengan harga 700.000 rubel (Rp 2,5 miliar) per botol yang diharapkan bisa menarik minat para triliuner yang menginap. Hotel Ritz-Carlton di Moskwa adalah satu dari 10 hotel paling mahal di dunia. Harga sebuah kamarnya mencapai lebih dari 10.000 poundsterling (Rp 165 juta) per malam.

Jumat, 03 April 2009

Mempercantik Flash Disk

Mempercantik Flash Disk



Flash disk saat ini merupakan benda personal yang dimiliki oleh banyak orang, khususnya kaum mobile. Biasanya mereka menggunakannya untuk menyimpan data kerja dan file penting lainnya. Oleh sebab itu flash disk sangat vital keberadaannya.

Karena flash disk sering digunakan, bolehlah kita berikan sedikit ‘polesan’ agar tidak terlihat membosankan. Kali ini kita akan membuat perubahan pada tampilan isi flash disk. Pertama-tama yang perlu Anda siapkan adalah 1 buah file gambar berformat jpg. Karena file jpeg ukurannya tidak terlalu besar jadi tidak terlalu lama untuk diload dan hemat kapasitas.

Kalau sudah lakukan langkah berikut ini :

1. Eksekusi Notepad.( Buka Start-Run lalu Ketikkan Notepad)

2. Ketikan or copy skrip dibawah ini :

[{BE098140-A513-11D0-A3A4-00C04FD706EC}]
ICONAREA_IMAGE= image.jpg Nama File Gambar yang kita simpanICONAREA_TEXT=32320000

3. Simpan kedalam root flash disk dengan nama desktop.ini

4. Refresh isi flash disk.

Apa hasilnya? Gambar yang Anda siapkan menjadi latar belakang isi flash disk. Coba Tampilkan isi flash disk dalam bentuk Tiles. Caranya klik kanan pada area kosong flash disk lalu pilih menu [View] > [Tiles]. Keterangan berupa jenis file, ukuran, dan lainnya akan berubah warna menjadi biru. Untuk merubahnya coba ganti kombinasi angka 32320000 menjadi yang lain. kita juga bisa membuat sebagai background di Drive lainnya misalnya di C:\, asalkan kita menyimpan dekstop.ini n gambar yang kita simpan tadi di drive yang kita tuju...


salam

dmz

Rabu, 10 Desember 2008

Warna Hitam


Kain basah terlihat lebih gelap karena cahaya yang datang akan dipantulkan oleh air pada kain tersebut (dispersi cahaya). Selain itu permukaan air juga menyebabkan hamburan cahaya yang acak. Kedua hal tersebut menyebabkan lebih sedikit cahaya yang dapat ditangkap oleh mata kita sehingga kain tampak lebih gelap.... seperti gambar di samping

Sekedar Bagi" Informasi

1. Untuk sekedar informasi buat temen-temen yang tinggal di dekat laut, hehe. Air pasang tertinggi terjadi pada gerhana matahari, karena ada dua objek besar yang punya pengaruh gravitasi terkuat (matahari dan bulan) yang menariknya ke atas (ke satu sisi belahan bumi saja). Jadi ketinggian air laut akan bertambah beberapa dm bahkan meter, dan gerhana matahari ini diperkirakan akan terjadi pada tahun 2009.

2. Mengapa minyak di atas air terlihat berwarna warni sedangkan kalau hanya minyak itu tidak bercampur air tidak terlihat seperti itu?

Jawabnya karena jika minyak di atas air minyak itu akan terapung membentuk lapisan tipis yang akan mempolarisasikan ( sebagian terpantul sebagian menembus masuk) cahaya, cahaya terpolarisasi (yang menembus minyak) dipantulkan oleh air, sehingga yang terpantul oleh minyak dan terpantul oleh air akan bergabung kembali, dan penggabungan ini akan menghasilkan pola interferensi seperti pelangi.

3. Mengapa ular berjoget sewaktu seorang pawangnya meniup seruling, apakah dia terlena mendengar musik si pawang?

Jawabnya tentu tidak, karena ular tidak bisa mendengar seperti kita, mereka hanya mampu merasakan getaran disekitar mereka bukan mendengar sejelas yang kita dengar, fungsi alat indra ular sangat berbeda dari manusia, mereka punya mata, tapi bukan alat utama untuk melihat, mereka sangat mengandalkan hidung untuk membantu penglihatannya. Penglihatan ular lebih seperti sensor panas. jadi kalau tubuh kita sama dinginnya dengan lingkungan / udara disekitar kita, ular hampir tidak bisa mengetahui kita. Tapi tetap saja mereka tahu, karena meraka punya lidah yang fungsinya pengganti hidung pada manusia. yaitu untuk mendeteksi zat kimia disekitarnya, itulah mengapa ular sangat membenci garam, karena garam membuat permukaan lidah mereka mengalami gangguan.
Jadi apa yang membuat ular berjoget? silahkan tanya sendiri, hehehehehehehehe.....