Khasiat Teh Hitam Setara Teh Hijau
Selama ini teh hijau dipercaya mampu mengurangi serangan koroner, stroke, diabetes, darah tinggi, dan kanker hati menjadi penyakit yang menakutkan bagi setiap orang. Sehingga banyak produsen teh berlomba-lomba mengeluarkan produk minuman teh hijau kemasan yang lebih praktis. Tetapi benarkan hanya teh hijau yang berkhasiat seperti itu?
Guru Besar Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Ali Khomsan MS dan ahli kesehatan jantung Dr Mohammad Taufik Spj dalam sebuah diskusi tentang teh, di Bogor, belum lama ini mengemukakan, teh hitam (black tea) juga berkhasiat sama seperti teh hijau karena kandungan radikal bebas yang terkandung di dalamnya.
"Memang benar teh hitam mempunyai manfaat seperti menurunkan risiko kanker, mencegah jantung koroner, mencegah penuaan, dan juga bisa menurunkan kadar kolesterol dalam darah," kata Prof Dr Ali Khomsan.
Prof Ali menjelaskan, dari berbagai referensi, diketahui bahwa teh hitam yang selama ini dikonsumsi masyarakat kita cukup banyak mengandung komponen senyawa yang baik bagi tubuh. Utamanya adalah antioksidan serta Theaflavin cukup tinggi. Senyawa itulah yang mempunyai efek dapat mengurangi risiko-risiko penyakit seperti kanker dan mencegah jantung koroner. "Teh hitam atau black tea itu dibuat dari pucuk daun teh segar yang dibiarkan menjadi layu sebelum digulung, kemudian dipanaskan dan dikeringkan. Teh hitam disebut juga teh fermentasi" tutur Ali Khomsan.
Salah seorang pakar kesehatan jantung dari Kota Hujan Bogor, Dr H Mohammad Taufik SpJ mendukung pendapat Prof Dr Ali Khomsan yang menyebutkan teh hitam bermanfaat untuk mengurangi penyakit jantung koroner, kanker, diabetes dan stroke.
Sayangnya, menurut Taufik, manfaat yang terkandung dalam meminum teh hitam belum banyak diketahui oleh masyarakat. Hal ini disebabkan kurangnya sosialisasi maupun publikasi dari berbagai penelitian tentang manfaat black tea bagi kesehatan.
Beberapa waktu lalu, Pusat Jantung Nasional Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta (RSJHK) juga memaparkan hasil penelitiannya dalam talkshow dengan tema "Efek Teh Hitam dalam Mencegah dan Mengatasi Risiko Penyakit Jantung Koroner" di aula RSJHK Jakarta. Menurut hasil penelitian tersebut, Katekin dalam teh hitam, senyawa yang disebut-sebut sebagai aktor yang mampu melawan penyakit degeneratif adalah senyawa Theaflavin.
Senyawa Theaflavin merupakan antioksidan, anti kanker, anti mutagenik, antidiabetes dan anti penyakit lainnya. Senyawa Theaflavin dalam Teh hitam jumlahnya cukup signifikan.
Secara sederhana, antioksidan dinyatakan sebagai senyawa yang mampu menghambat atau mencegah terjadinya oksidasi. Berdasarkan sumbernya, anti oksidan dapat dibagi menjadi antioksidan alami dan sintetis.
Theaflavin merupakan antioksidan alami yang sangat potensial. Kemampuannya sebagai penangkap radikal bebas sudah tidak dapat dipungkiri lagi kesahihannya. Kemampuan theaflavin sebagai antioksidan ternyata tidak cukup sampai di situ.
Aktivitasnya sebagai antioksidan dalam menghambat oksidasi low density lippoprotein (LDL) ternyata menunjukkan hal yang menakjubkan. Dalam seduhan teh hitam, theaflavin memberikan warna merah kekuningan.
Sementara itu thearubigin dan theanapthoquinone masing-masing memberi warna merah kecoklatan dan kuning pekat. Untuk hal rasa, bersama-sama kafein, theaflavin yang ada dalam teh hitam memberikan rasa segar
Penelitian di Belanda menyimpulkan bahwa kebiasaan minum teh hitam dapat mencegah penimbunan kolesterol pada pembuluh darah arteri, terutama pada wanita. Minum teh hitam satu sampai dua cangkir mampu menekan penimbunan kolesterol hingga 46 persen dan jika minum 4 cangkir dapat mencapai 69 persen.
Hal tersebut ditunjang oleh hasil penelitian di Amerika Serikat yang menunjukkan serangan jantung berkurang 40 persen pada orang-orang yang membiasakan minum teh hitam.
Teh hitam juga menunjukkan kemampuan yang meyakinkan sebagai sumber bahan pangan alami bagi para penderita diabetes, terutama dalam kapasitasnya menaikkan aktivitas insulin.
Penelitian yang dilakukan Departemen Pertanian Amerika Serikat yang telah dipublikasikan dalam Journal Agric Food Chem 2002, menunjukkan kemampuan teh hitam meningkatkan aktifitas insulin melebihi dari teh hijau maupun teh Oolong.
Menurut Mohammad Taufik, biasanya, para ahli kesehatan akan mempublikasikan hasil penelitiannya, setelah beberapa kali melakukan penelitian. Bila hasil penelitiannya menunjukkan hasil yang sama, baru penelitian tersebut dipublikasikan. Namun bila baru satu kali penelitian, hasilnya belum akan dipublikasikan.
"Kalau penelitian itu baru sekali kami lakukan tidak mungkin kami mempublikasikannya. Biasanya penelitian yang telah dipublikasikan adalah penelitian yang telah berulang-ulang," ujar dokter sepesialis jantung ini.
Lebih Unggul
Berdasarkan proses pengolahannya, teh diklasifikasikan menjadi tiga jenis yaitu teh hitam (fermentasi atau oksimatis, kependekan dari oksidasi ensimatis), teh Oolong, dan teh hijau. Konsekuensi logis dari perbedaan proses tersebut, menyebabkan lahirnya perbedaan produk teh baik secara fisik maupun kimia.
Secara kimia, perbedaan yang paling menonjol adalah perbedaan kandungan komposisi senyawa polyfenol. Pada proses pengolahan teh hitam, dan teh Oolong, sebagian katekin berubah menjadi theaflavin, thearubigin, dan theanaphtoquinone.
Meski tidak sepopuler nenek moyangnya (katekin), theaflavin sudah banyak dipelajari oleh sejumlah peneliti. Sejumlah penelitian menyatakan bahwa theaflavin lebih potensial dari pada katekin, mengingat secara struktur theaflavin lebih potensial dari pada katekin.
Hal ini bisa dilihat dari seberapa banyak gugus hidroksi (OH) yang dimilikinya. Gugus hidroksi ini dapat berfungsi sebagai anti radikal bebas atau antioksidan. Semakin banyak gugus hidroksi suatu senyawa, maka kemampuannya sebagai senyawa antioksidan semakin baik.
Theaflavin hanya terdapat dalam teh hitam atau teh yang telah mengalami oksimatis. Theaflavin merupakan hasil oksidasi katekin akibat proses oksimatis pada pengolahan teh hitam. Kekuatan Theaflavin setara dengan Katekin bahkan beberapa publikasi terkini menyatakan bahwa theaflavin lebih potensial dari katekin.
Indonesia sendiri saat ini tercatat sebagai produsen teh terbanyak nomor lima di dunia. Namun teh hitam Indonesia berdasarkan penelitian, mengandung theaflavin yang lebih tinggi dibandingkan Jepang maupun China. Dengan demikian, jika kita meminum teh hitam asli Indonesia, kecenderungan mencegah penyakit jantung koroner seperti yang disebutkan di atas makin tinggi. Sayangnya hal ini belum banyak diketahui oleh bangsa Indonesia sendiri.
[suarakarya-online.com]
Kamis, 19 Februari 2009
Cerdas Memilih Makanan
Cerdas Memilih Makanan
MEMILIH makanan tidak boleh sembarangan. Alih-alih sehat, jika salah memilih makanan, justru Anda akan mengalami kerugian.
Saat ini, sudah banyak pakar dan situs internet yang memberikan informasi tentang pentingnya memilih makanan. Di antara saran itu, antioksidan juga memegang peranan penting. Agar bisa mencapai kadar antioksidan yang cukup, sebaiknya Anda mengonsumsi makanan dengan minimal lima sampai enam variasi setiap harinya.
Jangan lupa konsumsi buah-buahan, seperti jambu, pisang, salak, juga anggur. Supaya tidak bosan, variasikan buah-buah tersebut atau bisa juga dijus. Namun, bila sulit untuk mengubah pola makan secara teratur, maka cara paling praktis adalah rajin mengonsumsi suplemen antioksidan.
Memilih suplemen antioksidan sebenarnya susah-susah gampang. Jika Anda mengonsumsi multivitamin, maka biasanya kandungan antioksidannya tidak cukup memadai. Namun, jika memilih suplemen antioksidan yang menekankan vitamin dan mineral tertentu, maka jumlah antioksidan yang diperlukan umumnya sudah mencukupi kebutuhan tubuh akan antioksidan.
Jika Anda terpikir untuk mengonsumsi multivitamin sekaligus suplemen antioksidan, ada baiknya Anda hitung dulu kandungannya dan sesuaikan dengan batasan yang diberikan. Agar lebih amannya lagi, berkonsultasilah dulu kepada dokter ahli gizi agar tidak salah langkah. Mencegah lebih baik daripada mengobati.
Dengan asupan antioksidan yang cukup, Anda pun bisa terhindar dari berbagai penyakit yang bersifat kronis. Mulai penyakit yang berkaitan dengan ketuaan (aging), penyakit kanker, penyakit pembuluh darah seperti jantung koroner dan penyakit degeneratif seperti dementia, parkinson dan alzheimer.
Penyakit ketuaan seperti ini sekarang tidak hanya terjadi pada orangtua, juga menyerang orang muda. Jadi, agar Anda terhindar dari berbagai penyakit yang menciutkan nyali, sebaiknya mulai memperhatikan asupan antioksidan sejak dini.
MEMILIH makanan tidak boleh sembarangan. Alih-alih sehat, jika salah memilih makanan, justru Anda akan mengalami kerugian.
Saat ini, sudah banyak pakar dan situs internet yang memberikan informasi tentang pentingnya memilih makanan. Di antara saran itu, antioksidan juga memegang peranan penting. Agar bisa mencapai kadar antioksidan yang cukup, sebaiknya Anda mengonsumsi makanan dengan minimal lima sampai enam variasi setiap harinya.
Jangan lupa konsumsi buah-buahan, seperti jambu, pisang, salak, juga anggur. Supaya tidak bosan, variasikan buah-buah tersebut atau bisa juga dijus. Namun, bila sulit untuk mengubah pola makan secara teratur, maka cara paling praktis adalah rajin mengonsumsi suplemen antioksidan.
Memilih suplemen antioksidan sebenarnya susah-susah gampang. Jika Anda mengonsumsi multivitamin, maka biasanya kandungan antioksidannya tidak cukup memadai. Namun, jika memilih suplemen antioksidan yang menekankan vitamin dan mineral tertentu, maka jumlah antioksidan yang diperlukan umumnya sudah mencukupi kebutuhan tubuh akan antioksidan.
Jika Anda terpikir untuk mengonsumsi multivitamin sekaligus suplemen antioksidan, ada baiknya Anda hitung dulu kandungannya dan sesuaikan dengan batasan yang diberikan. Agar lebih amannya lagi, berkonsultasilah dulu kepada dokter ahli gizi agar tidak salah langkah. Mencegah lebih baik daripada mengobati.
Dengan asupan antioksidan yang cukup, Anda pun bisa terhindar dari berbagai penyakit yang bersifat kronis. Mulai penyakit yang berkaitan dengan ketuaan (aging), penyakit kanker, penyakit pembuluh darah seperti jantung koroner dan penyakit degeneratif seperti dementia, parkinson dan alzheimer.
Penyakit ketuaan seperti ini sekarang tidak hanya terjadi pada orangtua, juga menyerang orang muda. Jadi, agar Anda terhindar dari berbagai penyakit yang menciutkan nyali, sebaiknya mulai memperhatikan asupan antioksidan sejak dini.
Asma Bisa Dikendalikan
Asma Bisa Dikendalikan
Asma atau peradangan pada seluruh percabangan saluran napas yang ditandai dengan penyempitan saluran napas, saat ini diperkirakan menyerang sekitar lima persen penduduk Indonesia dari segala usia. Asma perlu mendapat perhatian karena penyakit itu dapat menurunkan produktivitas dan meningkatkan beban ekonomi.
"Pengetahuan tentang penyakit asma perlu diketahui juga masyarakat umum untuk ikut membantu meminimalisasi faktor pencetus asma bagi penderitanya," kata dr Achmad Hudoyo, Sp P(K) dari Departemen Pulmonologi dan Ilmu Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dalam acara seminar tentang pengendalian asma, di Jakarta, belum lama ini.
Faktor yang meningkatkan terjadinya risiko serangan asma pada seseorang, menurut Achmad Hudoyo, selain faktor genetika, yang banyak terjadi akibat kondisi atau bahan tertentu yang mengakibatkan alergi serta kondisi lingkungan yang buruk.
"Selama ini hanya 30 persen asma yang terjadi karena faktor genetik, sisanya terpapar karena kondisi lingkungan yang buruk. Pengendalian faktor resiko dengan meningkatkan kualitas lingkungan sangatlah penting," ucapnya.
Meski hingga kini belum bisa disembuhkan, lanjut Achmad Hudoyo, asma sudah bisa dikendalikan. "Jadi sebenarnya mengobati asma secara tuntas adalah menghilangkan kedua faktor tersebut. Bila kedua faktor itu hilang, maka dapat dikatakan asmanya sudah `sembuh`," tuturnya.
Pegiat Yayasan Asma Indonesia itu lebih lanjut menjelaskan, untuk menghilangkan bakat asma yang biasanya diturunkan dari orang tua, harus dilakukan rekayasa genetika atau terapi gen sejak janin -- yang pada saat masih menjadi embrio dalam kandungan.
Namun, ia melanjutkan, hingga kini teknologi kedokteran belum mampu melakukan rekayasa genetik untuk menghilangkan bakat asma. "Karena itu yang bisa dilakukan oleh setiap orang adalah menghindari faktor pencetusnya," ucapnya.
Ia menjelaskan, serangan asma ringan berupa batuk berdahak pada malam hari menjelang pagi dan serangan berat berupa sesak napas disertai bunyi dan retraksi atau penarikan otot, bisa muncul bila ada faktor pencetus.
Menurut dia, faktor pencetus asma bisa berasal dari luar tubuh seperti cuaca (dingin, hujan, udara panas), debu, polusi udara, wewangian, makanan, zat kimia dan obat tertentu serta dari dalam tubuh seperti infeksi virus, sinusitis dan stress.
"Untuk tiap individu faktor pencetus asma bisa berbeda-beda, sehingga tidak bisa dibuat patokan secara umum. Misalnya, untuk orang tertentu dingin bisa mencetuskan asma, tetapi pada yang lain faktor pencetusnya bisa berupa udara panas," katanya.
Kondisi yang demikian, lanjutnya, membuat orang yang secara alami punya penyakit asma sangat sulit menghindari faktor pencetus, sehingga kemudian dibuat obat pencegah dan pelega asma. "Sebenarnya obat asma yang pertama adalah menghindari faktor pencetus, kedua menghindari faktor pencetus dan ketiga juga menghindari faktor pencetus, baru yang keempat menggunakan obat-obatan," katanya.
Achmad Hudoyo menjelaskan, obat asma terdiri atas obat pelega yang berfungsi untuk melebarkan saluran napas dengan mengendorkan otot saluran nafas yang sedang tegang atau bronkospasme, sedangkan obat pencegah berfungsi sebagai antiinflamasi (antiradang), untuk mempertahankan saluran napas tetap terbuka dan lega setelah menggunakan obat pelega.
Obat pelega, ia menambahkan, digunakan bila perlu yakni ketika ada gejala serangan asma baik ringan atau berat sedangkan obat pencegah dianjurkan digunakan setiap hari pada waktu pagi dan sore hari semaksimal mungkin, selama enam bulan sampai tidak muncul serangan lagi.
"Ini diperlukan karena faktor pencetus ternyata sangat beragam, dapat muncul setiap hari, dan bisa datang setiap saat," katanya.
Penggunaan obat pencegah dan pelega asma, katanya lebih lanjut, disesuaikan dengan tingkat keparahan penyakit asma yang diderita. Penderita gangguan asma ringan dengan frekuensi serangan jarang atau hanya sekali atau dua kali dalam setahun.
Karena itu, ia menyarankan untuk menggunakan obat pelega sedangkan penderita serangan asma sedang atau berat yang sering mengalami serangan diharuskan menggunakan obat pelega disertai obat pencegah.
Lebih lanjut Achmad Hudoyo menambahkan, bila upaya yang dilakukan untuk menghindari faktor pencetus asma berhasil maka gangguan asma pada penderita bisa dikendalikan. Gangguan asma, dikatakan terkontrol sebagian bila skor Asthma Control Test penderita yang bersangkutan 0-24 dan terkontrol total bila skornya 25.
Kriteria klinis asma yang terkontrol, katanya, terlihat bila penderita bebas gejala asma, aktivitas sehari-harinya tidak terganggu asma, tidak lagi mengalami gangguan ketika tidur, tidak lagi menggunakan obat pelega lagi dan hasil pemeriksaan faal parunya normal.
Achmad Hudoyo menjelaskan, bentuk obat asma yang ada saat ini cukup beragam, mulai dari suntikan, infus, diminum, dihisap atau disemprotkan ke dalam saluran napas. Injeksi atau infus biasanya hanya dilakukan dokter kepada penderita asma yang dirawat di unit gawat darurat rumah sakit, "Untuk penggunaan sehari-hari di rumah dianjurkan obat yang disemprot atau dihisap," katanya.
Obat hisap atau "inhaler", menurut dia, lebih dianjurkan karena obat hisap langsung terarah ke saluran nafas sehingga lebih cepat bekerja, dosisnya juga lebih sedikit yakni 1/10-1/20 dosis obat minum sehingga efek samping obat bisa dikurangi.
"Inhaler juga bekerja setempat, hanya ke saluran nafas, sehingga efek samping bisa ditekan, bahkan tidak ada efek samping sistemiknya," katanya.
Sementara pemakaian obat golongan steroid, menurut dia, harus dilakukan dengan strategi khusus karena meskipun terbukti paling ampuh untuk asma tapi memiliki efek samping.
Dalam hal ini, ia menjelaskan, pemakaian steroid jangka pendek masih dibenarkan tetapi penggunaan jangka panjang memerlukan cara khusus karena bisa berefek osteoporosis, muka seperti bulan (moonface), penekanan sumsum tulang, dan retensi cairan yang membuat tubuh mengandung banyak air.
Pada kesempatan yang sama, dr Nunung Rahayu dari Yayasan Penyantun Anak Asma Indonesia dan Lily Rosyana dari Yayasan Asma Indonesia mengatakan, pihaknya memiliki sejumlah program untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kemungkinan terkena serangan asma.
Bagi mereka yang sudah terkena serangan asma, lanjut Nunung Rahayu, pihaknya juga menggiatkan kampanye senam asma di sekitar lingkungan RT/RW yang baik tidak saja bagi penderita asma, tetapi juga masyarakat setempat. "Meski namanya senam asma, yang ikut boleh siapa saja yang berminat. Karena efeknya juga ikut membantu memperbaiki sistem pernapasan menjadi lebih baik," kata Nunung.
Selain itu, lanjut Nunung, pihaknya juga berupaya membantu penderita asma dari keluarga kurang mampu untuk mendapat pengobatan yang sesuai, termasuk bantuan pembelian obat antiinflamasi inhaler sebesar lima persen kepada penderita asma. "Memang jumlahnya hanya sedikit. Selebihnya mereka dibantu melalui program Jaminan Kesehatan Masyarakat," kata Nunung seraya menambahkan bahwa bantuan tersebut merupakan voucher yang diberikan pada mereka yang menjadi anggota klub Yayasan Asma Indonesia.
Asma atau peradangan pada seluruh percabangan saluran napas yang ditandai dengan penyempitan saluran napas, saat ini diperkirakan menyerang sekitar lima persen penduduk Indonesia dari segala usia. Asma perlu mendapat perhatian karena penyakit itu dapat menurunkan produktivitas dan meningkatkan beban ekonomi.
"Pengetahuan tentang penyakit asma perlu diketahui juga masyarakat umum untuk ikut membantu meminimalisasi faktor pencetus asma bagi penderitanya," kata dr Achmad Hudoyo, Sp P(K) dari Departemen Pulmonologi dan Ilmu Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dalam acara seminar tentang pengendalian asma, di Jakarta, belum lama ini.
Faktor yang meningkatkan terjadinya risiko serangan asma pada seseorang, menurut Achmad Hudoyo, selain faktor genetika, yang banyak terjadi akibat kondisi atau bahan tertentu yang mengakibatkan alergi serta kondisi lingkungan yang buruk.
"Selama ini hanya 30 persen asma yang terjadi karena faktor genetik, sisanya terpapar karena kondisi lingkungan yang buruk. Pengendalian faktor resiko dengan meningkatkan kualitas lingkungan sangatlah penting," ucapnya.
Meski hingga kini belum bisa disembuhkan, lanjut Achmad Hudoyo, asma sudah bisa dikendalikan. "Jadi sebenarnya mengobati asma secara tuntas adalah menghilangkan kedua faktor tersebut. Bila kedua faktor itu hilang, maka dapat dikatakan asmanya sudah `sembuh`," tuturnya.
Pegiat Yayasan Asma Indonesia itu lebih lanjut menjelaskan, untuk menghilangkan bakat asma yang biasanya diturunkan dari orang tua, harus dilakukan rekayasa genetika atau terapi gen sejak janin -- yang pada saat masih menjadi embrio dalam kandungan.
Namun, ia melanjutkan, hingga kini teknologi kedokteran belum mampu melakukan rekayasa genetik untuk menghilangkan bakat asma. "Karena itu yang bisa dilakukan oleh setiap orang adalah menghindari faktor pencetusnya," ucapnya.
Ia menjelaskan, serangan asma ringan berupa batuk berdahak pada malam hari menjelang pagi dan serangan berat berupa sesak napas disertai bunyi dan retraksi atau penarikan otot, bisa muncul bila ada faktor pencetus.
Menurut dia, faktor pencetus asma bisa berasal dari luar tubuh seperti cuaca (dingin, hujan, udara panas), debu, polusi udara, wewangian, makanan, zat kimia dan obat tertentu serta dari dalam tubuh seperti infeksi virus, sinusitis dan stress.
"Untuk tiap individu faktor pencetus asma bisa berbeda-beda, sehingga tidak bisa dibuat patokan secara umum. Misalnya, untuk orang tertentu dingin bisa mencetuskan asma, tetapi pada yang lain faktor pencetusnya bisa berupa udara panas," katanya.
Kondisi yang demikian, lanjutnya, membuat orang yang secara alami punya penyakit asma sangat sulit menghindari faktor pencetus, sehingga kemudian dibuat obat pencegah dan pelega asma. "Sebenarnya obat asma yang pertama adalah menghindari faktor pencetus, kedua menghindari faktor pencetus dan ketiga juga menghindari faktor pencetus, baru yang keempat menggunakan obat-obatan," katanya.
Achmad Hudoyo menjelaskan, obat asma terdiri atas obat pelega yang berfungsi untuk melebarkan saluran napas dengan mengendorkan otot saluran nafas yang sedang tegang atau bronkospasme, sedangkan obat pencegah berfungsi sebagai antiinflamasi (antiradang), untuk mempertahankan saluran napas tetap terbuka dan lega setelah menggunakan obat pelega.
Obat pelega, ia menambahkan, digunakan bila perlu yakni ketika ada gejala serangan asma baik ringan atau berat sedangkan obat pencegah dianjurkan digunakan setiap hari pada waktu pagi dan sore hari semaksimal mungkin, selama enam bulan sampai tidak muncul serangan lagi.
"Ini diperlukan karena faktor pencetus ternyata sangat beragam, dapat muncul setiap hari, dan bisa datang setiap saat," katanya.
Penggunaan obat pencegah dan pelega asma, katanya lebih lanjut, disesuaikan dengan tingkat keparahan penyakit asma yang diderita. Penderita gangguan asma ringan dengan frekuensi serangan jarang atau hanya sekali atau dua kali dalam setahun.
Karena itu, ia menyarankan untuk menggunakan obat pelega sedangkan penderita serangan asma sedang atau berat yang sering mengalami serangan diharuskan menggunakan obat pelega disertai obat pencegah.
Lebih lanjut Achmad Hudoyo menambahkan, bila upaya yang dilakukan untuk menghindari faktor pencetus asma berhasil maka gangguan asma pada penderita bisa dikendalikan. Gangguan asma, dikatakan terkontrol sebagian bila skor Asthma Control Test penderita yang bersangkutan 0-24 dan terkontrol total bila skornya 25.
Kriteria klinis asma yang terkontrol, katanya, terlihat bila penderita bebas gejala asma, aktivitas sehari-harinya tidak terganggu asma, tidak lagi mengalami gangguan ketika tidur, tidak lagi menggunakan obat pelega lagi dan hasil pemeriksaan faal parunya normal.
Achmad Hudoyo menjelaskan, bentuk obat asma yang ada saat ini cukup beragam, mulai dari suntikan, infus, diminum, dihisap atau disemprotkan ke dalam saluran napas. Injeksi atau infus biasanya hanya dilakukan dokter kepada penderita asma yang dirawat di unit gawat darurat rumah sakit, "Untuk penggunaan sehari-hari di rumah dianjurkan obat yang disemprot atau dihisap," katanya.
Obat hisap atau "inhaler", menurut dia, lebih dianjurkan karena obat hisap langsung terarah ke saluran nafas sehingga lebih cepat bekerja, dosisnya juga lebih sedikit yakni 1/10-1/20 dosis obat minum sehingga efek samping obat bisa dikurangi.
"Inhaler juga bekerja setempat, hanya ke saluran nafas, sehingga efek samping bisa ditekan, bahkan tidak ada efek samping sistemiknya," katanya.
Sementara pemakaian obat golongan steroid, menurut dia, harus dilakukan dengan strategi khusus karena meskipun terbukti paling ampuh untuk asma tapi memiliki efek samping.
Dalam hal ini, ia menjelaskan, pemakaian steroid jangka pendek masih dibenarkan tetapi penggunaan jangka panjang memerlukan cara khusus karena bisa berefek osteoporosis, muka seperti bulan (moonface), penekanan sumsum tulang, dan retensi cairan yang membuat tubuh mengandung banyak air.
Pada kesempatan yang sama, dr Nunung Rahayu dari Yayasan Penyantun Anak Asma Indonesia dan Lily Rosyana dari Yayasan Asma Indonesia mengatakan, pihaknya memiliki sejumlah program untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kemungkinan terkena serangan asma.
Bagi mereka yang sudah terkena serangan asma, lanjut Nunung Rahayu, pihaknya juga menggiatkan kampanye senam asma di sekitar lingkungan RT/RW yang baik tidak saja bagi penderita asma, tetapi juga masyarakat setempat. "Meski namanya senam asma, yang ikut boleh siapa saja yang berminat. Karena efeknya juga ikut membantu memperbaiki sistem pernapasan menjadi lebih baik," kata Nunung.
Selain itu, lanjut Nunung, pihaknya juga berupaya membantu penderita asma dari keluarga kurang mampu untuk mendapat pengobatan yang sesuai, termasuk bantuan pembelian obat antiinflamasi inhaler sebesar lima persen kepada penderita asma. "Memang jumlahnya hanya sedikit. Selebihnya mereka dibantu melalui program Jaminan Kesehatan Masyarakat," kata Nunung seraya menambahkan bahwa bantuan tersebut merupakan voucher yang diberikan pada mereka yang menjadi anggota klub Yayasan Asma Indonesia.
Wanita Merokok, Waspadai Menopause Dini
Wanita Merokok, Waspadai Menopause Dini
Perempuan yang merokok sangat mungkin untuk mulai memasuki masa menopause sebelum usia 45 tahun dan juga membuat mereka menghadapi resiko osteoporosis dan serangan jantung, demikian laporan beberapa peneliti Norwegia.
"Di antara sebanyak 2.123 perempuan yang berusia 59 sampai 60 tahun, mereka yang saat ini merokok, 59% lebih mungkin mengalami menopause dini dibandingkan dengan perempuan yang tidak merokok," kata Dr. Thea F. Mikkelsen dari University of Oslo dan rekannya.
Bagi perokok paling berat, resiko menopause dini hampir dua kali lipat. Namun, perempuan yang dulunya merokok, tapi berhenti setidaknya 10 tahun sebelum menopause, pada dasarnya kurang mungkin untuk berhenti menstruasi dibandingkan dengan perokok sebelum usia 45 tahun.
Ada bukti bahwa merokok belakangan dalam kehidupan membuat seorang perempuan lebih mungkin untuk mengalami menopause dini, sedangkan perokok yang berhenti sebelum berusia setengah baya mungkin tak terpengaruh, kata Mikkelsen dan timnya di dalam jurnal Online, BMC Public Health.
Mereka meneliti hubungan lebih lanjut dan menetapkan apakah menjadi perokok pasif juga mungkin mempengaruhi waktu menopause. Para peneliti tersebut mendapati bahwa hampir 10% perempuan memasuki menopause sebelum usia 45 tahun.
Sebanyak 25% adalah perokok saat ini, 28,7% adalah mantan perokok dan 35,2% dilaporkan perokok pasif saat ini. Perokok saat ini adalah 59% lebih mungkin untuk memasuki menopause sebelum usia 45 tahun, sedangkan menopause dini hampir dua kali lebih umum di kalangan perempuan yang merokok paling banyak.
Namun perempuan yang telah berhenti merokok setidaknya satu dasawarsa
sebelum menopause adalah 87% lebih mungkin dibandingkan dengan rekan sebaya mereka yang saat ini merokok dan telah memasuki masa menopause dini.
Dibandingkan dengan perempuan yang menikah, para janda juga menghadapi peningkatan resiko menopause dini, seperti juga perempuan yang mengatakan kondisi kesehatan mereka buruk. Perempuan yang lebih berpendidikan kurang mungkin untuk memasuki menopause dini, tapi mereka juga kurang mungkin menjadi perokok.
Keterlibatan pada kegiatan sosial juga mengurangi resiko menopause dini. Para peneliti tersebut tak menemukan hubungan antara konsumsi kopi atau alkohol atau perokok pasif dengan resiko menopause dini.
"Lebih cepat seorang perempuan berhenti merokok," kata Mikkelsen dan timnya, "Lebih banyak perlindungan yang ia dapatkan sehubungan dengan datangnya menopause dini."
Perempuan yang merokok sangat mungkin untuk mulai memasuki masa menopause sebelum usia 45 tahun dan juga membuat mereka menghadapi resiko osteoporosis dan serangan jantung, demikian laporan beberapa peneliti Norwegia.
"Di antara sebanyak 2.123 perempuan yang berusia 59 sampai 60 tahun, mereka yang saat ini merokok, 59% lebih mungkin mengalami menopause dini dibandingkan dengan perempuan yang tidak merokok," kata Dr. Thea F. Mikkelsen dari University of Oslo dan rekannya.
Bagi perokok paling berat, resiko menopause dini hampir dua kali lipat. Namun, perempuan yang dulunya merokok, tapi berhenti setidaknya 10 tahun sebelum menopause, pada dasarnya kurang mungkin untuk berhenti menstruasi dibandingkan dengan perokok sebelum usia 45 tahun.
Ada bukti bahwa merokok belakangan dalam kehidupan membuat seorang perempuan lebih mungkin untuk mengalami menopause dini, sedangkan perokok yang berhenti sebelum berusia setengah baya mungkin tak terpengaruh, kata Mikkelsen dan timnya di dalam jurnal Online, BMC Public Health.
Mereka meneliti hubungan lebih lanjut dan menetapkan apakah menjadi perokok pasif juga mungkin mempengaruhi waktu menopause. Para peneliti tersebut mendapati bahwa hampir 10% perempuan memasuki menopause sebelum usia 45 tahun.
Sebanyak 25% adalah perokok saat ini, 28,7% adalah mantan perokok dan 35,2% dilaporkan perokok pasif saat ini. Perokok saat ini adalah 59% lebih mungkin untuk memasuki menopause sebelum usia 45 tahun, sedangkan menopause dini hampir dua kali lebih umum di kalangan perempuan yang merokok paling banyak.
Namun perempuan yang telah berhenti merokok setidaknya satu dasawarsa
sebelum menopause adalah 87% lebih mungkin dibandingkan dengan rekan sebaya mereka yang saat ini merokok dan telah memasuki masa menopause dini.
Dibandingkan dengan perempuan yang menikah, para janda juga menghadapi peningkatan resiko menopause dini, seperti juga perempuan yang mengatakan kondisi kesehatan mereka buruk. Perempuan yang lebih berpendidikan kurang mungkin untuk memasuki menopause dini, tapi mereka juga kurang mungkin menjadi perokok.
Keterlibatan pada kegiatan sosial juga mengurangi resiko menopause dini. Para peneliti tersebut tak menemukan hubungan antara konsumsi kopi atau alkohol atau perokok pasif dengan resiko menopause dini.
"Lebih cepat seorang perempuan berhenti merokok," kata Mikkelsen dan timnya, "Lebih banyak perlindungan yang ia dapatkan sehubungan dengan datangnya menopause dini."
Jus Buah Lebih Efektif Cegah Sakit Jantung
Jus Buah Lebih Efektif Cegah Sakit Jantung
MENGONSUMSI buah-buahan memang sangat bermanfaat bagi kesehatan termasuk mencegah penyakit pembuluh darah dan jantung. Namun riset terbaru mengindikasikan, mengonsumsinya dalam bentuk jus atau sari buah, ternyata memberi khasiat lebih besar ketimbang memakannya dalam bentuk utuh.
Dr. Kelly Decorde dari Universitas Montpellier Prancis dan timnya melaporkan penelitian yang untuk peratmakalinya membuktikan bahwa mengolah buah menjadi jus atau sari buah berdampak penting bagi kesehatan. Selama ini, kata Decorde, masyarakat mengonsumsi buah dalam bentuk olahan seperti jus, namun informasi mengenai komposisi nutrisinya hanya terbatas pada bentuk utuhnya.
Untuk menganalisis sejauh mana proses "juicing" ini mempengaruhi kandungan antioksidan kuat pada buah yang disebut fenol, Decorde dan timnya melakukan uji coba menggunakan hamster.
Binatang-binatang ini dibagi dalam kelompok dan di antaranya ada yang dibiarkan diet dengan kadar lemak dan kolesterol tinggi untuk memicu timbulnya aterosklerosis atau pembentukan plak-plak lemak dalam pembuluh arteri yang dapat menyebabkan serangan jantung dan stroke . Kelompok hamster ada yang diberi buah apel, anggur ungu, jus apel, jus anggur dan air.
Di antara hamster juga ada kelompok yang dikontrol untuk menjalani diet normal. Jumlah buah yang dikonsumsi para hamster diseimbangkan dangan konsumsi normal manusia yang rata-rata sekitar tiga buah apel dan tiga rangkai anggur per hari . Hamster juga diberi jus yang setara dengan empat gelas per hari untuk manusia dengan berat 70 kilogram (154 pon).
Apel dan anggur menurut kajian para peneliti memiliki kadar fenol yang setara, sementara jus anggur ungu memiliki phenol 2,5 kali lebih banyak ketimban jus apel .
Pada akhir riset terungkap, dibandingkan yang dminum air, hamster yang diberi buah dan jus mencatat kadar kolesterol rendah, stres oksidatif rendah, serta akumulasi lemak yang sedikit pada pembuluh aorta, saluran utama yang menyuplah darah mengandung okigen ke seluruh tubuh. Jus anggur ungu tercatat memberi pengaruh paling besar diikuti buah anggur ungu, jus dan buah apel.
"Temuan ini mengindikasikan bahwa jumlah fenol yang terkandung dalam makanan memiliki pengaruh langsung terhadap kekayaan antioksidannya, " tulis peneliti yang memuat riset mereka dalam Molecular Nutrition and Food Research edisi April 2008.
Zat-zat antioksidan lainnya dalam buah-buahan seperti vitamin C dan karotenoid, juga dapat memberi kontribusi bagi khasiatnya. Hasil penelitian ini kata, Decorde, memberikan saran dan dorongan bahwa manfaat buah dan jus buah memilii relevansi yang signifikan dan dapat diapliasikan bagi kesehatan masyarakat.
MENGONSUMSI buah-buahan memang sangat bermanfaat bagi kesehatan termasuk mencegah penyakit pembuluh darah dan jantung. Namun riset terbaru mengindikasikan, mengonsumsinya dalam bentuk jus atau sari buah, ternyata memberi khasiat lebih besar ketimbang memakannya dalam bentuk utuh.
Dr. Kelly Decorde dari Universitas Montpellier Prancis dan timnya melaporkan penelitian yang untuk peratmakalinya membuktikan bahwa mengolah buah menjadi jus atau sari buah berdampak penting bagi kesehatan. Selama ini, kata Decorde, masyarakat mengonsumsi buah dalam bentuk olahan seperti jus, namun informasi mengenai komposisi nutrisinya hanya terbatas pada bentuk utuhnya.
Untuk menganalisis sejauh mana proses "juicing" ini mempengaruhi kandungan antioksidan kuat pada buah yang disebut fenol, Decorde dan timnya melakukan uji coba menggunakan hamster.
Binatang-binatang ini dibagi dalam kelompok dan di antaranya ada yang dibiarkan diet dengan kadar lemak dan kolesterol tinggi untuk memicu timbulnya aterosklerosis atau pembentukan plak-plak lemak dalam pembuluh arteri yang dapat menyebabkan serangan jantung dan stroke . Kelompok hamster ada yang diberi buah apel, anggur ungu, jus apel, jus anggur dan air.
Di antara hamster juga ada kelompok yang dikontrol untuk menjalani diet normal. Jumlah buah yang dikonsumsi para hamster diseimbangkan dangan konsumsi normal manusia yang rata-rata sekitar tiga buah apel dan tiga rangkai anggur per hari . Hamster juga diberi jus yang setara dengan empat gelas per hari untuk manusia dengan berat 70 kilogram (154 pon).
Apel dan anggur menurut kajian para peneliti memiliki kadar fenol yang setara, sementara jus anggur ungu memiliki phenol 2,5 kali lebih banyak ketimban jus apel .
Pada akhir riset terungkap, dibandingkan yang dminum air, hamster yang diberi buah dan jus mencatat kadar kolesterol rendah, stres oksidatif rendah, serta akumulasi lemak yang sedikit pada pembuluh aorta, saluran utama yang menyuplah darah mengandung okigen ke seluruh tubuh. Jus anggur ungu tercatat memberi pengaruh paling besar diikuti buah anggur ungu, jus dan buah apel.
"Temuan ini mengindikasikan bahwa jumlah fenol yang terkandung dalam makanan memiliki pengaruh langsung terhadap kekayaan antioksidannya, " tulis peneliti yang memuat riset mereka dalam Molecular Nutrition and Food Research edisi April 2008.
Zat-zat antioksidan lainnya dalam buah-buahan seperti vitamin C dan karotenoid, juga dapat memberi kontribusi bagi khasiatnya. Hasil penelitian ini kata, Decorde, memberikan saran dan dorongan bahwa manfaat buah dan jus buah memilii relevansi yang signifikan dan dapat diapliasikan bagi kesehatan masyarakat.
Tanaman Herbal Alami Menghilangkan Bau Badan
Tanaman Herbal Alami Menghilangkan Bau Badan
Banyak cara dilakukan orang untuk mengurangi bau tidak sedap yang keluar dari tubuhnya. Mulai dengan menggunakan bedak, deodoran atau tawas. Meski keringat tidak berbau, keringat sering dikaitkan dengan bau ”asem-pahit” tersebut. Hal ini tidak sepenuhnya salah karena ketika tubuh berkeringatlah bau tersebut meruap.
Sejak masa puber, tubuh kita mengeluarkan bau khas di sekitar ketiak, kaki dan alat kelamin. Hal ini bisa menyebabkan seseorang menjadi rendah diri dan tidak pede. Bau yang tidak enak antara lain disebabkan oleh bakteri yang bercampur dengan keringat. Cara paling sederhana menghilangkan bau tidak enak tersebut adalah dengan mandi secara teratur.
Pada beberapa kasus, meski sudah rajin mandi, tetap saja seseorang menderita akibat bau tubuhnya yang tidak menyenangkan itu.
Bagi yang memiliki masalah seperti ini, ramuan tradisional berasal dari tanaman herbal dari para leluhur kita di bawah ini dapat dicoba.
Berikut beberapa tanaman herbal nan alami yang bisa dijadikan solusi:
Daun Sirih (Piper Betle)
Daun sirih yang telah lama dikenal berkhasiat sebagai antiseptik juga diketahui mengandung zat-zat aktif yang mampu menghilangkan bau badan. Sirih dikenal ampuh menghilangkan bau badan terutama yang ditimbulkan bakteri atau jamur. Kandungan kimia minyak asiri dalam daun sirih antara lain kadinen, kavikol, sineol, eugenol, karvakol dan zat samak.
Untuk menghilangkan bau badan, salah satu cara adalah dengan merendam beberapa helai daun sirih dalam air panas. Setelah dingin, airnya diminum. Dapat pula ditambahkan gula putih secukupnya untuk menambah rasa. Cara lainnya adalah dengan menghaluskan daun sirih dengan kapur lalu dioleskan ke ketiak.
Daun Beluntas (Pluchea Indica)
Tanaman yang biasa digunakan sebagai pagar hidup ini mempunyai sifat khas berbau langu dan berasa getir. Daun dan bunganya mengandung alkali yang bertindak sebagai antiseptik. Kandungan kimianya antara lain amino (leusin, isoleusin, triptofan, treonin), lemak, kalsium, fosfor, besi, Vitamin A dan C.
Untuk menghilangkan bau badan, daun beluntas biasa dilalap mentah atau dikukus terlebih dulu. Daun beluntas yang telah direbus juga lezat disantap sebagai urap (sayuran dengan kelapa parut yang dibumbui).
Jika dibiasakan menyantap daun beluntas, bau badan akan hilang. Selain itu, bau mulut yang kurang sedap pun akan hilang. Bagi yang tidak suka, bisa dengan meminum air rebusan daunnya setiap pagi dan sore. Beluntas juga bermanfaat menurunkan suhu tubuh untuk mendinginkan tubuh sehingga banyak keringat yang keluar dan suhu tubuh menjadi turun.
Daun Kemangi (Ocimun Balisicum)
Zat aktif yang terkandung dalam daun kemangi juga berfungsi sebagai antiseptik. Untuk mendapatkan manfaatkan daun ini juga digunakan sebagai lalap mentah atau sebagai sayuran urap yang juga mentah. Daun kemangi juga mengandung zat yang dapat meningkatkan selera makan. Bagi perempuan yang sedang mengalami menstruasi, jika mengonsumsi daun kemangi kurang lebih satu genggam pagi dan sore selama masa haid akan terhindar dari bau yang tidak sedap yang sering menimpa perempuan haid.
Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorrhiza)
Zat-zat yang terkandung di dalam temulawak adalah sapomin, flavoinoida dan minyak asiri untuk menghilangkan bau badan. Caranya ialah minum rebusan rimpang temulawak yang telah dipotong-potong halus.
Air perasan temulawak yang sudah diparut dengan tambahan sedikit madu juga dapat diminum untuk menghilangkan bau tak sedap yang keluar dari tubuh. Selain itu, parutan temulawak juga dapat dibalurkan ke seluruh badan, dan didiamkan hingga kering sebelum dibersihkan untuk mendapatkan hasil maksimal.
Bunga Kecombrang (Nicolaia speciosa)
Zat aktif yang terkandung di dalamnya yang dapat menghilangkan bau badan adalah sapomin, flavoinoida dan polifenol. Kecombrang dapat dimanfaatkan dengan memasak daun muda dan bunganya dimakan sebagai teman makan nasi. Di daerah tertentu kecombrang biasa dimasak sebagai sayur lodeh.
Jeruk Purut (Citrus bystrix)
Kulitnya mengandung minyak asiri yang berbau harum. Jeruk purut dapat digunakan untuk menghilangkan bau badan dengan cara meminum sari campuran kulit jeruk purut dengan sebatang kencur yang dihaluskan bersama-sama dengan air secukupnya.
Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia)
Air jeruk nipis dicampur dengan sedikit kapur sirih lalu digosokkan ke bagian tertentu seperti ketiak dipercaya mampu mengusir bau badan yang tidak sedap.
Jahe (Zingiber officinale)
Banyak orang India percaya bahwa jika mengonsumsi jahe bisa membuat mereka tercium manis.
Menurut Pen Chao Cing dari Kaisar Shen Nong (3000 SM), jahe segar dapat menghilangkan bau badan dan mendekatkannya kepada aura spiritual. Wedang jahe jika dikonsumsi secara teratur bisa jadi sangat membantu mengatasi masalah bau badan.
Ketimun/Mentimun (Cucumis sativus)
Satu buah ketimun muda dikupas kulitnya lalu digosokkan ke bagian badan dan berbau hingga berulang sehabis mandi.
Cengkih/Cengkeh (Eugenia aromatica)
Beberapa kuntum bunga cengkeh direndam sehingga mengembang kemudian airnya diminum. Air rebusan beberapa kuntum cengkeh dengan gula merah, dapat pula menjadi minuman segar dan menghangatkan di kala hujan.
Banyak cara dilakukan orang untuk mengurangi bau tidak sedap yang keluar dari tubuhnya. Mulai dengan menggunakan bedak, deodoran atau tawas. Meski keringat tidak berbau, keringat sering dikaitkan dengan bau ”asem-pahit” tersebut. Hal ini tidak sepenuhnya salah karena ketika tubuh berkeringatlah bau tersebut meruap.
Sejak masa puber, tubuh kita mengeluarkan bau khas di sekitar ketiak, kaki dan alat kelamin. Hal ini bisa menyebabkan seseorang menjadi rendah diri dan tidak pede. Bau yang tidak enak antara lain disebabkan oleh bakteri yang bercampur dengan keringat. Cara paling sederhana menghilangkan bau tidak enak tersebut adalah dengan mandi secara teratur.
Pada beberapa kasus, meski sudah rajin mandi, tetap saja seseorang menderita akibat bau tubuhnya yang tidak menyenangkan itu.
Bagi yang memiliki masalah seperti ini, ramuan tradisional berasal dari tanaman herbal dari para leluhur kita di bawah ini dapat dicoba.
Berikut beberapa tanaman herbal nan alami yang bisa dijadikan solusi:
Daun Sirih (Piper Betle)
Daun sirih yang telah lama dikenal berkhasiat sebagai antiseptik juga diketahui mengandung zat-zat aktif yang mampu menghilangkan bau badan. Sirih dikenal ampuh menghilangkan bau badan terutama yang ditimbulkan bakteri atau jamur. Kandungan kimia minyak asiri dalam daun sirih antara lain kadinen, kavikol, sineol, eugenol, karvakol dan zat samak.
Untuk menghilangkan bau badan, salah satu cara adalah dengan merendam beberapa helai daun sirih dalam air panas. Setelah dingin, airnya diminum. Dapat pula ditambahkan gula putih secukupnya untuk menambah rasa. Cara lainnya adalah dengan menghaluskan daun sirih dengan kapur lalu dioleskan ke ketiak.
Daun Beluntas (Pluchea Indica)
Tanaman yang biasa digunakan sebagai pagar hidup ini mempunyai sifat khas berbau langu dan berasa getir. Daun dan bunganya mengandung alkali yang bertindak sebagai antiseptik. Kandungan kimianya antara lain amino (leusin, isoleusin, triptofan, treonin), lemak, kalsium, fosfor, besi, Vitamin A dan C.
Untuk menghilangkan bau badan, daun beluntas biasa dilalap mentah atau dikukus terlebih dulu. Daun beluntas yang telah direbus juga lezat disantap sebagai urap (sayuran dengan kelapa parut yang dibumbui).
Jika dibiasakan menyantap daun beluntas, bau badan akan hilang. Selain itu, bau mulut yang kurang sedap pun akan hilang. Bagi yang tidak suka, bisa dengan meminum air rebusan daunnya setiap pagi dan sore. Beluntas juga bermanfaat menurunkan suhu tubuh untuk mendinginkan tubuh sehingga banyak keringat yang keluar dan suhu tubuh menjadi turun.
Daun Kemangi (Ocimun Balisicum)
Zat aktif yang terkandung dalam daun kemangi juga berfungsi sebagai antiseptik. Untuk mendapatkan manfaatkan daun ini juga digunakan sebagai lalap mentah atau sebagai sayuran urap yang juga mentah. Daun kemangi juga mengandung zat yang dapat meningkatkan selera makan. Bagi perempuan yang sedang mengalami menstruasi, jika mengonsumsi daun kemangi kurang lebih satu genggam pagi dan sore selama masa haid akan terhindar dari bau yang tidak sedap yang sering menimpa perempuan haid.
Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorrhiza)
Zat-zat yang terkandung di dalam temulawak adalah sapomin, flavoinoida dan minyak asiri untuk menghilangkan bau badan. Caranya ialah minum rebusan rimpang temulawak yang telah dipotong-potong halus.
Air perasan temulawak yang sudah diparut dengan tambahan sedikit madu juga dapat diminum untuk menghilangkan bau tak sedap yang keluar dari tubuh. Selain itu, parutan temulawak juga dapat dibalurkan ke seluruh badan, dan didiamkan hingga kering sebelum dibersihkan untuk mendapatkan hasil maksimal.
Bunga Kecombrang (Nicolaia speciosa)
Zat aktif yang terkandung di dalamnya yang dapat menghilangkan bau badan adalah sapomin, flavoinoida dan polifenol. Kecombrang dapat dimanfaatkan dengan memasak daun muda dan bunganya dimakan sebagai teman makan nasi. Di daerah tertentu kecombrang biasa dimasak sebagai sayur lodeh.
Jeruk Purut (Citrus bystrix)
Kulitnya mengandung minyak asiri yang berbau harum. Jeruk purut dapat digunakan untuk menghilangkan bau badan dengan cara meminum sari campuran kulit jeruk purut dengan sebatang kencur yang dihaluskan bersama-sama dengan air secukupnya.
Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia)
Air jeruk nipis dicampur dengan sedikit kapur sirih lalu digosokkan ke bagian tertentu seperti ketiak dipercaya mampu mengusir bau badan yang tidak sedap.
Jahe (Zingiber officinale)
Banyak orang India percaya bahwa jika mengonsumsi jahe bisa membuat mereka tercium manis.
Menurut Pen Chao Cing dari Kaisar Shen Nong (3000 SM), jahe segar dapat menghilangkan bau badan dan mendekatkannya kepada aura spiritual. Wedang jahe jika dikonsumsi secara teratur bisa jadi sangat membantu mengatasi masalah bau badan.
Ketimun/Mentimun (Cucumis sativus)
Satu buah ketimun muda dikupas kulitnya lalu digosokkan ke bagian badan dan berbau hingga berulang sehabis mandi.
Cengkih/Cengkeh (Eugenia aromatica)
Beberapa kuntum bunga cengkeh direndam sehingga mengembang kemudian airnya diminum. Air rebusan beberapa kuntum cengkeh dengan gula merah, dapat pula menjadi minuman segar dan menghangatkan di kala hujan.
Teh baik untuk Kesehatan Hati
Teh baik untuk Kesehatan Hati
New Orleans--Teh memang terkenal sebagai minuman berkhasiat. Sejak jaman dulu, orang selalu minum teh untuk menjaga kesehatannya. Selain menghilangkan dahaga teh masih menyimpan banyak rahasia. Baru-baru ini ditemukan lagi salah satu khasiat teh. Yaitu teh ternyata baik untuk kesehatan hati.
Temuan hasil penelitian yang disponsori oleh industri teh dunia ini menyimpulkan, segelas teh sangat baik untuk hati. Walaupun hasil temuan ini belum bisa mengangkat "derajat" teh sebagai makanan atau minuman kesehatan, namun penelitian yang dilakukan di Universitas Boston menemukan bahwa teh dapat membuat kerja arteri menjadi lebih baik pada orang yang mengidap penyakit hati.
Hasil penelitian tentang teh sebelumnya juga menyimpulkan bahwa orang yang biasa minum teh mempunyai resiko lebih rendah untuk terserang penyakit hati ketimbang yang jarang minum teh.
Dalam penelitian yang terbaru yang dibiayai oleh "The North America Tea Trade Health Research Association" (NATHRA) ini, meneliti beberapa orang yang minum teh secara teratur, lalu mengukur efek yang ditimbulkan pada tubuh secara cermat. Dan hasil penelitian ini dipresentasikan pada pertemuan rutin Assosiasi Hati Amerika (AHA) di New Orleans.
Penelitian ini dilakukan pada 50 orang pria dan wanita yang punya penyakti hati. Semua relawan diminta untuk minum teh sebanyak 4 sampai 8 cangkir teh setiap hari selama sebulan. Selanjutnya mereka diminta minum air putih setiap hari untuk satu bulan berikutnya.
Para peneliti menemukan aliran darah dan tekanan darah para relawan menjadi normal disaat mereka minum teh selama satu bulan. Namun, ketika mereka minum air putih selama satu bulan, tidak ada perubahan yang berarti terhadap tekanan dan aliran darah mereka.
Hasil penelitian ini sungguh menggembirakan buat kita-kita yang 'doyan' minum teh, khususnya buat yang punya penyakit hati. tapi sayangnya, para peneliti itu sendiri yang 'dikomandani' oleh Dr. Joseph A. Vita, tidak mau gegabah untuk menyarankan minum teh sebagai upaya penyembuhan penyakit hati.
"Saya minum teh karena saya yakin teh memang baik untuk kesehatan,"kata Vita. " Tapi saya dan rekan-rekan masih belum siap untuk merekomendasikan minum teh untuk perawatan hati."lanjut Vita.
Sumber: Asosiasi Teh Indonesia
New Orleans--Teh memang terkenal sebagai minuman berkhasiat. Sejak jaman dulu, orang selalu minum teh untuk menjaga kesehatannya. Selain menghilangkan dahaga teh masih menyimpan banyak rahasia. Baru-baru ini ditemukan lagi salah satu khasiat teh. Yaitu teh ternyata baik untuk kesehatan hati.
Temuan hasil penelitian yang disponsori oleh industri teh dunia ini menyimpulkan, segelas teh sangat baik untuk hati. Walaupun hasil temuan ini belum bisa mengangkat "derajat" teh sebagai makanan atau minuman kesehatan, namun penelitian yang dilakukan di Universitas Boston menemukan bahwa teh dapat membuat kerja arteri menjadi lebih baik pada orang yang mengidap penyakit hati.
Hasil penelitian tentang teh sebelumnya juga menyimpulkan bahwa orang yang biasa minum teh mempunyai resiko lebih rendah untuk terserang penyakit hati ketimbang yang jarang minum teh.
Dalam penelitian yang terbaru yang dibiayai oleh "The North America Tea Trade Health Research Association" (NATHRA) ini, meneliti beberapa orang yang minum teh secara teratur, lalu mengukur efek yang ditimbulkan pada tubuh secara cermat. Dan hasil penelitian ini dipresentasikan pada pertemuan rutin Assosiasi Hati Amerika (AHA) di New Orleans.
Penelitian ini dilakukan pada 50 orang pria dan wanita yang punya penyakti hati. Semua relawan diminta untuk minum teh sebanyak 4 sampai 8 cangkir teh setiap hari selama sebulan. Selanjutnya mereka diminta minum air putih setiap hari untuk satu bulan berikutnya.
Para peneliti menemukan aliran darah dan tekanan darah para relawan menjadi normal disaat mereka minum teh selama satu bulan. Namun, ketika mereka minum air putih selama satu bulan, tidak ada perubahan yang berarti terhadap tekanan dan aliran darah mereka.
Hasil penelitian ini sungguh menggembirakan buat kita-kita yang 'doyan' minum teh, khususnya buat yang punya penyakit hati. tapi sayangnya, para peneliti itu sendiri yang 'dikomandani' oleh Dr. Joseph A. Vita, tidak mau gegabah untuk menyarankan minum teh sebagai upaya penyembuhan penyakit hati.
"Saya minum teh karena saya yakin teh memang baik untuk kesehatan,"kata Vita. " Tapi saya dan rekan-rekan masih belum siap untuk merekomendasikan minum teh untuk perawatan hati."lanjut Vita.
Sumber: Asosiasi Teh Indonesia
Langganan:
Postingan (Atom)